Khawatir Ada Apa-apa, Izin Sandar Kapal Pesiar Diperketat

Kapal pesiar MV Viking Sun ditolak berlabuh di Surabaya, Jawa Timur dan Pelabuhan Benoa, Denpasar Selatan, Bali. Pemprov NTB juga belum memberi izin berlabuh di pelabuhan Gili Mas, Lombok Barat.

FAJAR.CO.ID, MATARAM--Kapal pesiar MV Viking Sun ditolak berlabuh di Surabaya, Jawa Timur dan Pelabuhan Benoa, Denpasar Selatan, Bali. Pemprov NTB juga belum memberi izin berlabuh di pelabuhan Gili Mas, Lombok Barat.

Penolakan tersebut diklaim pemerintah dua provinsi tersebut karena membawa turis asing yang cukup banyak. Sehingga, dikhawatirkan menularkan virus corona (Covid-19). Kapal pesiar tersebut membawa 848 wisatawan mancanegara dan 460 kru.

“Belum mengizinkan, alasannya untuk keamanan dan keselamatan. Tapi tetap kita tidak boleh berlebihan menangapinya,” kata Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah, Senin (9/3) lalu.

Informasi, tentang menyandarnya kapal persiar MV Viking Sun ini pun ditanggapi beragam oleh masyarakat. Untuk itu, pemprov melakukan perketatan pengamanan, melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus corona.

“Tentu kita ingin menservis visitor kita dengan sebaik-baiknya, tetapi karena ini memang masalah yang harus kita tangani secara bijak semua. Bukan mau menolak karena apa, tapi sama-sama saling menjaga,” jelasnya.

Di sisi lain, dari pihak pelaku industri pariwisata pun menginginkan kedatangan tamu. Khususnya wisatawan mancanegara. Lantaran kondisi di bulan ini sepi dari pengunjung. Bahkan besar harapan para pelaku usaha industri, mereka (wisman kapal pesiar) bisa mendorong pertumbuhan industri pariwisata.

“Ya tetapi di satu sisi juga kita harus melihat untuk saat ini manfaat dan kerugiannya, jangka pendek ini. Tapi ini kita lihat korona semakin lama semakin menurun, mudah-mudahan tidak ada lagi. Apalagi event-event yang lain cukup banyak, jangan berlebihan lah (menanggapi),” tuturnya.

Terpisah, Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid mengatakan, pihaknya bersama dengan provinsi sudah melakukan rapat. Yakni, terkait kedatangan kapal pesiar tersebut. Keputusannya saat itu akan ikut (keputusan) dari dearah Bali. Karena daerah yang paling preventif terhadap kepariwisataan yakni Bali. Artinya pengamanan di sana pasti sangat ketat.

“Apa yang dilakukan Bali, itu yang akan kita lakukan. Itu keputusannya pada waktu rapat,” katanya.

Maka dari itu ketika rapat beberapa waku lalu, dia minta pemda tetap berkomunikasi dengan Bali. Begitu juga pihak-pihak terkait dengan pelabuhan tetap berkomunikasi, terutama dengan pihak pelabuhan Benoa Denpasar Selatan Bali.

“Tetapi kita minta juga untuk tetap memperhatikan psikologis masyarakat. Kita tetap melakukan prosedurnya. Jadi tidak berarti kita mengikuti Bali, kemudian kita melakukan prosedur (pengamanan dan pemeriksaan) juga di sini,” tuturnya.

Menurutnya, pelaku pariwisata berharap kedatangan kapal pesiar yang membawa banyak wisatawan. Dan memberi dampak yang signifikan bagi pariwisata NTB. Namun dalam hal tersebut pihak mengikuti keputusan dari Bali. Jika dari Bali memperbolehkan, maka akan diperbolehkan. Dengan prosedur yang sesuai standar WHO.

“Tetapi kalau Bali tidak menerima kita langsung tidak menerima juga,” pungkasnya. (tea/r5)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : rasid alfarizi

Comment

Loading...