Mahendra Siregar Kecam Kebijakan UE soal Biofuel dari Sawit

Kamis, 12 Maret 2020 10:09

Wakil Menlu Mahendra Siregar di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (25/10). Foto: M Fathra Nazrul/JPNN.Com

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Wakil Menteri Luar Negeri, Mahendra Siregar menegaskan, Indonesia tidak bisa menerima kebijakan energi Uni Eropa (EU) yang menuding biofuel dari minyak kelapa sawit sebagai penyebab deforestasi, karena diskriminatif.

Mahendra menganggap kebijakan Renewable Energy Directive (RED II) dan Derivative Act yang dirilis oleh EU, sebagai tantangan besar yang akan mencegah pengembangan hubungan yang lebih produktif dan konstruktif antara Indonesia dan EU.

“Sementara fokus kebijakan energi terbarukan EU hanya terbatas pada deforestasi, sebenarnya kerusakan lingkungan yang disebabkan minyak nabati di Eropa lebih jauh dari itu,” kata Mahendra, Rabu (11/3).

Mengutip hasil penelitian Dr. Erich E Dumelin dari University of California, AS, Wamenlu mengatakan bahwa produktivitas minyak kelapa sawit berkisar 4-9 kali lipat dari minyak nabati lainnya.

Selain itu, kelapa sawit hanya membutuhkan 19 kilogram pupuk nitrogen untuk menghasilkan 1 ton minyak, sedangkan minyak nabati lain, misalnya canola (rapeseed) memerlukan hingga 183 kilogram pupuk yang sama untuk menghasilkan 1 ton minyak.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dengan judul Life Cycle Assessment of Palm Oil and Vegetable Oils, and the Environmental Impact of Palm Oil and Other Vegetable Oils (2009) itu juga menunjukkan bahwa kelapa sawit hanya membutuhkan 0,01 kilogram pestisida untuk memproduksi 1 ton minyak, sementara untuk menghasilkan 1 ton rapeseed oil diperlukan 35 kilogram pestisida.

SPONSORSHIP

Komentar


VIDEO TERKINI