Versi Muhammad Yasir, di Tangan Kaswadi Razak dan Taufan Pawe, Golkar Lebih Berkibar

Politikus Senior Golkar, Muhammad Yasir

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR– Permintaan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto, agar Nurdin Halid kembali berkiprah penuh di pusat memantik dinamika politik baru di Sulsel. Jabatan Ketua DPD I Golkar yang akan ditinggal NH memunculkan sejumlah figur calon pengganti. Di antaranya Taufan Pawe, Kaswadi Razak, Fahsar Padjalangi, Rusdin Abdullah, serta Supriansa.

Kader senior Golkar, Muhammad Yasir merunut sejumlah kriteria ketua ideal yang dibutuhkan Golkar bisa bertahan sebagai yang terbesar di Sulsel. “Tidak boleh main-main memilih ketua yang baru. Ini demi masa depan Golkar Sulsel,” kata mantan pengurus harian DPP Golkar era Aburizal Bakrie ini, di Jakarta, Rabu 11 Maret 2019.

Kriteria pertama, jelas karya dan pengabdiannya pada Golkar. “Kalau hanya mengukur bahwa dia pernah menjabat ketua DPD II, sama sekali itu tidak cukup. Yang harus diukur bagaimana Golkar di daerahnya sejak di tangannya,” kata Yasir.

Golkar Bone di tangan Fahsar Padjalangi mencatat sejarah kemunduran terburuk. Kursi DPRD Sulsel dapil Bone, dari tiga anjlok sisa satu. Lebih buruk lagi di DPRD Bone, sebelumnya mengantongi 15 kursi, lalu kehilangan 6 kursi menjadi 9. Realitas ini menunjukkan salah kelola. Apalagi, sebagai bupati, Fahsar dibantu wakil bupati juga orang Golkar.

Kaswadi Razak, Ketua Golkar sekaligus Bupati Soppeng justru paling mentereng terkait kontribusi pada pileg 2019 lalu. Golkar meraih 42 persen suara setara 12 dari total 30 kursi. Pileg 2014 Golkar hanya mengantongi 7 suara saja.

Komentar

Loading...