Jejak Buya Hamka di Makassar, 1932, Datang Urus Muktamar

RINTISAN HAMKA.Madrasah Muallimin yang terletak di Jalan Muhammadiyah, Kota Makassar, merupakan lokasi perintisan sekolah oleh Buya Hamka. SAKINAH/FAJAR

Bangsa Indonesia belum merdeka kala itu. Saat Buya Hamka datang ke Makassar.

Laporan: SAKINAH FITRIANTI

FAJAR.CO.ID — Pria bernama Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah yang belakangan akrab dengan sebutan Buya Hamka itu tiba di Makassar pada 1932. Muhammadiyah yang bermarkas di Yogyakarta, mengirimnya.

Buya Hamka diberi misi mempersiapkan pelaksanaan Muktamar Ke-21 Muhammadiyah yang digelar pada 2 Mei 1932. Makassar ditunjuk sebagai tuan rumah. Posisinya kala itu sebagai mubalig muda.

“Hamka dikirim sebagai guru dalam rangka mempersiapkan muktamar,” ungkap sejarawan Sulsel, Mustari Bosra saat ditemui di ruang kerjanya di Kantor Poltekes Muhammadiyah Kota Makassar, pekan lalu.

Usia Hamka baru 24 tahun. Terbilang sangat muda, namun Hamka-lah yang dipilih oleh PP Muhammadiyah untuk mempersiapkan perangkat muktamar. Hasil muktamar menetapkan AR Fachruddin sebagai Ketua Umum PP Muhammdiyah. Secara umum, keputusan muktamar menghasilkan rekomendasi pentingnya pendirian surat kabar.

Di Makassar, Hamka tidak hanya mengurusi Muktamar Muhammadiyah. Ia juga mengajar dan keliling Sulawesi berdakwah. Bahkan Hamka memboyong istri dan anaknya untuk tinggal sementara selama muktamar dan setelah muktamar untuk tetap berdakwah.

Hamka berkeliling hingga ke Donggala, Sulawesi Tengah. Di Sulsel, Hamka berdakwah ke Palopo, Majene, Sidrap, Gowa, hingga Takalar.

“Di sinilah terbentuk kepercayaan diri Hamka berhadapan dengan masyarakat. Ke Palopo, di sana dia lama berdakwah mengajak masyarakat dan berbaur,” sambung Mustari yang juga Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel itu.

Keberadaan Hamka di Sulsel juga disukai masyarakat. Hubungannya sangat erat dan menjalin relasi dekat dengan para raja di masing-masing daerah, seperti Jeneponto dan Takalar pada masa itu.

“Hamka juga melanjutkan dakwahnya ke Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto. Di sana Hamka sangat mudah bergaul dengan para tokoh-tokoh daerah tersebut. Hamka bahkan sangat dekat dengan para raja atau karaeng yang berasal dari Takalar dan Jeneponto,” paparnya.

Itulah kelebihan Hamka. Dia mampu berinteraksi dengan para pembesar lokal di Sulsel. Tipe dakwahnya sangat komunikatif. Di tangannya, Muhammadiyah mengembangkan cabang-cabang. Di daerah yang ia kunjungi. Termasuk memprakarsai pembentukan ranting dan cabang Muhammadiyah.

Ia punya strategi sendiri. Ketika mendatangi satu daerah, ia kemudian bermukim di situ selama satu hingga dua pekan. Begitu dilakukan, bergilir di tiap daerah. Hal ini yang membuat Hamka betul-betul berbaur dengan masyarakat. Termasuk memprakarsai pembentukan Muhammadiyah di Donggala.

Selama di Sulsel, Hamka dianggap sebagai pelopor kedua penyebaran Islam yang berasal dari Minangkabau. Pelopor pertama adalah Datuk ri Bandang.

Dalam penyebaran dakwah dan mengajar di sekolah, Hamka mengombinasikan antara pengajaran pendidikan formal dengan metode dakwah umum yang membawa paham pembaharuan. Ia juga menggunakan //tamirul masajid// sebagai sarana berdakwah untuk masyarakat yang bermukim di sana.

“Bahkan, beberapa peserta kajiannya itu berasal dari Limbung (Gowa). Itulah dari orang-orang yang ikut kajiannya ini, mereka kemudian membangun Cabang Limbung,” ungkap Mustari.

Bagaimana literatur menorehkan jejak Hamka selama di Makassar dan Sulawesi, serta penelitian goresan jasanya, baca edisi besok. (*/bersambung)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : rasid alfarizi

Comment

Loading...