Jejak Buya Hamka, di Makassar, Tokoh Pelopor Pemberantasan Buta Aksara (3-Selesai)

Bung Hatta, Pakian Saleh, dan Buya Hamka pada 1970

Dia ulama multitalenta. Mubalig, jurnalis, hingga novelis. Karya sastranya sangat diwarnai kultur Makassar.

Laporan: SAKINAH FITRIANTI

FAJAR.CO.ID—Ulama bernama lengkap Syekh Haji Abdul Karim Amrullah yang tenar dengan sapaan Buya Hamka itu meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981. Peninggalan intelektualnya masih ada hingga kini.

Di Sulawesi Selatan, dialah yang membawa warna baru bagi dunia pendidikan Islam. Bahkan hingga ke pelosok Sulsel. Hamka tidak hanya berdiam tiga tahun di Kota Makassar. Ia berkeliling menyusuri daerah-daerah hingga ke Palopo dan Polewali (Sulbar).

Hamka aktif mengisi pembelajaran di sekolah khusus untuk memberantas buta aksara yang sangat tinggi saat itu. Sekolah itu dinamakan Menyesal School, yang kini juga familiar dengan pemberantasan buta aksara.

Dinamakan demikian, sebab cakupannya diperuntukkan bagi mereka yang telah usia lanjut namun ingin tetap mengenyam pendidikan. Hingga setelah Hamka meninggalkan Makassar, sekolah itu masih jalan.

“Dia juga yang merintis pendirian Muallimin di Jalan Muhammadiyah sekarang. Hingga saat ini masih tetap berdiri bahkan sudah ada beberapa sekolah di dalamnya,” jelas Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel Mustari Bosra.

Sekitar tiga tahunan Hamka memoles dunia pendidikan di Sulsel, mengajar hingga ke pelosok. Tidur bersama masyarakat setempat tanpa memandang sekat. Itu yang diperlihatkan Hamka selama keliling daerah di Sulsel.

“Pernah ke Sengkang, Palopo hingga Majene. Di sana ia memotivasi berdirinya Madrasah Tsanawiyah, sehingga tumbuh dan besar sekolah itu hingga saat ini,” ucapnya.

Muhammad Ihsan Harahap yang juga meneliti terkait jejek Hamka dari 1931-1934 di Sulsel menjelaskan, aktivitas Hamka pada 1932 itu dengan mendirikan Tabligh School, dilakukan untuk membina para khatib dan guru yang mengajar di sekolah-sekolah.

“Sekolah ini memegang peranan penting bagi proses modernisasi Islam di Makassar. Salah satunya bisa dilihat dari kritiknya terhadap pembawaan khutbah pada rangkaian acara salat Jumat waktu itu,” urai Ihsan.

Baca Juga: Jejak Buya Hamka di Makassar, 1932, Datang Urus Muktamar

Saat itu, khatib membaca teks khutbah dalam bahasa Arab. Hal itu belum tentu dimengerti oleh jemaah yang hadir. Hamka kemudian berceramah menggunakan bahasa Indonesia.

Hamka juga dijelaskan berkunjung ke Polewali. Di sana ia berceramah dan berbaur dengan masyarakat Mandar. Bahkan setiap aktivitasnya ia kerap berkirim surat ke Pimpinan Pusat Muhammadiyah atau melaporkan ke media massa.

“Ini juga saya lacak jejak Hamka itu ternyata banyak ditemukan di arsip nasional dan perpusatkaan nasional. Selama di Makassar Hamka banyak berkirim surat dan beberapa kali dimuat di media massa, termasuk persiapan Kongres Muhammadiyah itu banyak diberitakan di surat kabar Pemberita Makassar pada waktu itu,” jelasnya.

Baca Juga: Jejak Buya Hamka di Makassar, Asah Intelektual di Kota Daeng

Saat berkunjung ke Palopo, Hamka berdakwah dan kemudian membacakan ayat dan diartikan ke dalam bahasa Indonesia. Hamka banyak menekankan pentingnya memperluas jangkauan dakwah Muhammadiyah.

“Bahkan di sana juga diadakan sidang tertutup yang bertempat di Madrasah Muhammadiyah Palopo yang dipimpin langsung oleh Hamka,” jelasnya.

Salah satu karya sastra Hamka, Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939), merupakan buah pergulatannya selama di Makassar. Kapal inilah yang menjadi sarana transportasi keluar dan masuk Makassar. Novel ini kemudian banyak dikaitkan dengan kultur Makassar kala itu. Menjadi warna alur cerita. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : rasid alfarizi

Comment

Loading...