Malaysia Terapkan Lockdown, Salat Jumat pun Dilarang

PERDANA PUTRA: Gedung kantor perdana menteri Malaysia di Putrajaya. Arsitek Ahmad Rozi Abdul Wahab terinspirasi gaya paladian saat mendesain kantor perdana menteri Malaysia. Mahathir Mohamad secara simbolis pindah ke gedung ini bersama 40 staf untuk menandai pemindahan ibu kota dari Kuala Lumpu ke Putrajaya. (Siti Aisyah/JAWA POS)

FAJAR.CO.ID, KUALA LUMPUR – Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yasin memutuskan negaranya akan melaksanakan lockdown mulai 18 Maret hingga 31 Maret 2020 di seluruh negara bagian.

“Perintah kawalan pergerakan (lockdown) ini dibuat di bawah Undang-Undang Pencegahan dan Pengawalan Penyakit Berjangkit 1988 dan Undang-Undang Polisi 1967,” ujar Muhyiddin dalam pidato khusus tentang COVID-19 di Kantor Perdana Menteri Malaysia, Senin (16/3) malam.

Lockdown atau karantina, yang disebut dalam bahasa setempat sebagai Perintah Kawalan Pergerakan, tersebut meliputi; pertama, larangan menyeluruh pergerakan dan kegiatan massal di seluruh negeri, termasuk aktivitas keagamaan, olah raga, sosial dan budaya.

“Untuk menegakkan larangan ini, semua rumah ibadah dan tempat perniagaan hendaklah ditutup, kecuali toko serba ada (pasaraya), toko kelontong, pasar umum, kedai dan toko serba ada yang menjual barang keperluan harian,” katanya.

Khusus untuk umat Islam, ujar dia, penangguhan semua aktivitas keagamaan di masjid dan surau, termasuk salat Jumat, ditetapkan berdasarkan keputusan Musyawarah Panitia Muzakarah Khusus yang telah bersidang pada 15 Maret 2020.

Kedua, pembatasan menyeluruh semua perjalanan warga Malaysia ke luar negeri. “Bagi yang baru pulang dari luar negeri, mereka diminta menjalani pemeriksaan kesehatan dan melakukan karantina secara sukarela (atau self quarantine) selama 14 hari,” katanya.

Keempat, penutupan semua PAUD, sekolah pemerintah dan swasta termasuk sekolah harian, sekolah berasrama penuh, sekolah internasional, pusat tahfiz, lembaga pendidikan tingkat rendah, menengah dan prauniversitas.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar