Sulsel Mandiri Hadapi Corona

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Warga Sulsel dan Sulbar tak perlu panik. Sulsel bisa mandiri menghadapi ancaman virus Corona.

SAAT ini, Sulsel punya Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Wahidin Sudirohudodo yang merupakan rumah sakit terbesar di kawasan timur Indonesia. Peralatan lengkap dan sudah pengalaman menangani pandemik.

Satu-satunya yang masih membuat Sulsel bergantung pada Jakarta adalah laboratorium uji sampel Covid-19. Namun, tak lama lagi, laboratorium di Makasassar juga bakal beroperasi. Dengan begitu, Sulsel akan makin mandiri.

Jika beroperasi, maka semua sampel tak perlu lagi dikirim ke Balitbangkes Kemenkes di Jakarta. Hasilnya uji laboratorium pun akan lebih cepat ketahuan ketika Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Makassar beroperasi menguji sampel suspect Corona.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Korona Achmad Yurianto menjelaskan, balai akan menjadi salah satu pusat uji sampel di wilayah KTI. Saat ini, tim dari BTKLPP Makassar sementara mengukuti On The Job Training (OJT) atau magang di Balitbangkes.

Tim kesehatan tersebut dilatih keterampilannya dalam menangani pemeriksaan sampel pasien suspect Corona. Khusus untuk kawasan KTI, ada dua kota yang disiapkan sebagai pusat pemeriksaan: Makassar dan Manado.

BTKLPP Makassar sudah memiliki peralatan berupa polymerase chain reaction (PCR) yang memang khusus untuk mendeteksi virus, salah satunya korona. Hanya dalam 15 menit, alat ini sudah bisa mendeteksi virus dengan akurat.

“Saat ini di Makassar alat itu baru ada di balai (BTKLPP) kita yah. Untuk di Rumah Sakit Wahidin dan Rumah Sakit Unhas, kami konfirmasi belum ada alatnya,” beber pria yang menjabat sebagai Sesdirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes ini kepada FAJAR, Selasa, 17 Maret.

Pelatihan tim akan berlangsung selama sepekan. Paling lambat, kata Achmad, pekan depan sampel pasien yang suspect khusus wilayah KTI tak perlu lagi ke Balitbangkes di Jakarta. Cukup diperiksa di Makassar.

Saat ini, pemeriksaan sampel berupa lendir di hidung dan belakang tenggorokan memang masih berpusat di Balitbangkes. Mereka kerap menerima kiriman sampel dari rumah sakit se-Indonesia, termasuk dari Sulsel.

Selain karena faktor ketepatan dan akurasi, keterampilan tim pemeriksa juga menjadi pertimbangannya. “Memeriksa virus ini kan harus hati-hati. Jangan sampai dikerjakan oleh mereka yang belum pernah memerika virus. Makanya ada OJT dulu,” jelasnya.

“Kami antisipasi saja, jangan sampai pemeriksaan menyebabkan penularan baru. Kemudian virusnya lepas ke masyarakat. Virus ini bio security nomor 2, periksanya tak boleh disembarang tempat,” Achmad mengimbuh.

Setiap hari, 500-an sampel diperiksa oleh Balitbangkes dari berbagai daerah. Termasuk dari Sulsel. Saat ini, sudah ada 2.300 spesimen yang masuk untuk diperiksa.

Potensi bertambahnya pasien positif korona pun masih bisa terjadi. Data terakhirnya, positif sudah mencapai 172 orang dengan jumlah yang meninggal sebanyak 7 orang. Yang positif berasal dari delapan provinsi.

“Nantinya akan terjadi penambahan pasien signifikan karena kontak tracing dan edukasi semakin gencar. Masyarakat sudah waspada, jika ada gejala langsung memeriksakan diri,” tambahnya.

Darurat 4 Bulan

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB, Agus Wibowo mengatakan, status keadaan tertentu darurat untuk korona sebetulnya sudah ditetapkan sejak 28 Januari sampai 28 Februari. Sekarang diperpanjang lagi hingga 29 Mei.

Dia juga mendorong pemerintah daerah untuk menetapkan status siaga darurat, bagi wilayah yang masih nihil terinfeksi korona. “Untuk daerah yang sudah terinfeksi seperti DKI misalnya, sudah harus status tanggap darurat,” katanya.

Potensi Pasar

Ketidakpastian ekonomi global turut mempengaruhi laju perekonomian dalam negeri khususnya terhadap dunia usaha.
Namun, hal ini sebenarnya juga dapat menjadi momentum bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mencuri pasar dalam negeri.

Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi dan UKM Sulsel Abdul Azis Bennu mengatakan di tengah kondisi ekspor yang kian lesu, ini jadi momentum untuk mendorong pasar lokal domestik.

Terutama daya beli masyarakat juga perlu dimasifkan untuk mencintai produk dalam negeri. “Yang jelas dengan situasi ini, maka tugas kita bagaimana menyiapkan keperluan masyarakat terutama produk UMKM kita agar produknya terserap oleh pasar,” kata Abdul Azis.

Azis menjelaskan bahwa UKM yang terganggu ekspornya hanya beberapa negara saja, seperti Tiongkok, Thailand, Korea, dan Jepang. Sementara tujuan Timur Tengah masih jalan.

“Nah, makanya solusinya mencoba pasar antarpulau. Untuk kepentingan nasional kita. Seperti ada produk perikanan kita yang ke Bali dan wilayah lainnya,” paparnya.

Terkait virus korona, Abdul Azis menuturkan, UMKM tak perlu risau kesulitan mencari pasar, sebab kebutuhan nasional sangat besar. Meskipun ada aspek lain yang menguntungkan jika diekspor dengan kondisi dolar yang kian mahal.

“Kembali mencintai produk lokal. Bagaimana produk lokal itu menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” imbuhnya.

Menyerap produksi lokal dalam negeri sebetulnya telah digencarkan dengan terbitnya Perda no 7 tahun 2019 tentang pemberdayaan koperasi dan usaha kecil. Sehingga peran pasar modern kini hadir untuk memberi penguatan sektor pemasaran produk lokal.

“Pasar tradisional dan di modern (minimarket) juga sudah diamanahkan. Karena produk UMKM kita banyak di produk makanan dan minuman sehingga regulasi ini sangat penting,” pungkasnya.

Terpisah, Branch Manager Alfa Midi Sulselbar, Didik Kurniawan mengaku, memdorong produk lokal juga menjadi motto perusahaannya. “Dominan produk kami itu adalah produk lokal,” ungkapnya.

Ketua Asosiasi UKM Mutiara Timur, Hasidah S Lipoeng mengaku, selain pasar yang terbatas dengan ditutupnya ekspor ke beberapa negara tujuan, pelaku UKM juga dihadapkan sulitnya bahan baku.

“Dengan adanya virus korona berdampak ke beberapa UKM. Baik penjualan maupun pembelian bahan baku, apalagi gula pasir jadi sangat langka. Tentu saja ini akan mengancam keberlangsungan produksi UKM,” keluh Hasidah.

Makasnya Hasidah berharap agar ada peran pemerintah untuk menjamin ketersediaan pangan. Agar produksi tetap berjalan lancar. “Kecuali UKM yang bahan bakunya di tanam sendiri yang aman,” paparnya.

Ditopang Konsumsi

Pengamat Ekonomi Hamid Paddu menilai meski serapan ekspor dan impor terhambat, itu bukan kendala utama. Indonesia pada dasarnya perputaran ekonominya ditopang oleh konsumsi.

“Beda dengan negara lain. Jadi palingan gangguannya 20-30 persen. Terlebih di Sulsel kita masih bisa bekerja dengan stok pangan yang tersedia. Didukung daya beli masyarakat masih cukup untuk membeli barang dalam negeri. Jadi masih jalan ekonomi,” nilainya.

Begitupun dengan investasi yang 70 persennya didominasi dalam negeri. “Semua negara memang terganggu. Makanya usaha kita bagaimana mendorong produksi. Melonggarkan mata rantai yang ada. Juga mendorong daya beli, konsumsi masyarakat” paparnya.

Sulsel merupakan wilayah lumbung padi, untuk bahan makanan sangat tercukupi. Kemampuan untuk menyerap konsumsi pun cukup tinggi. “Sulsel kan 80 persen impor dari Tiongkok. Dan isinya bukan makanan. Itu bahan penolong, untuk pabrik, banyak itu suku cadang. Jadi gangguannya tidak besar,” terangnya.

Terpenting, kata Hamid, kalau pemerintah perlu untuk memastikan bahan baku terjaga ketersediannya. Baik untuk konsumsi maupun untuk industri. Meskipun opsi terakhirnya jika memang akan melakukan lockdown. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Fadel

Comment

Loading...