Penelitian Terbaru: Penciuman dan Rasa di Lidah Hilang

0 Komentar

Pasien bisa kehilangan indera penciuman dan pengecap sata terinfeksi COVID-19.

FAJAR.CO.ID, — Bukan hanya demam, flu atau sakit tenggorokan, para peneliti menemukan gejala baru saat seseorang terinfeksi virus corona atau COVID-19. Apa itu?

Dari gejala-gejala yang sudah sering disampaikan, disebutkan bahwa sejumlah pasien bisa kehilangan indera penciuman dan pengecap sata terinfeksi COVID-19. Hal ini bermula dari pengakuan seorang pasien asal Italia.

Sebelum dinyatakan positif terinfeksi virus corona, pasien tersebut mengaku mengalami sejumlah gejala. Termasuk kelelahan, demam, dan batuk. Namun ternyata, dia juga mendapati beberapa gejala baru yakni, hilangnya indera penciuman dan pengecap.

Pasien itu baru menyadarinya saat tengah membersihkan apartemen. Kala itu, dia mengaku tidak dapat mencium bau dari cairan pembersih lantai yang umumnya menimbulkan aroma menyengat. Bahkan, saat menumis bawang putih di atas penggorengan pun dia sama sekali tidak dapat mencium aromanya.

pasien

Tak berhenti di situ saja. Ketika hendak mencicipi sayuran yang diolah dengan bumbu-bumbu beraroma kuat, dia juga tidak dapat merasakan cita rasanya.

Secara anekdot, sejumlah ahli medis menyatakan bahwa sebagian besar pasien positif corona turut mengalami gejala serupa. Namun hingga saat ini, belum ada penelitian lebih lanjut terkait gejala-gejala baru tersebut

Sebab, para dokter di Italia dilaporkan sedang kewalahan dalam menangani pasien virus corona yang jumlahnya terus bertambah. Bahkan, mereka kini ikut berjuang bertahan hidup sembari memberikan perawatan medis kepada ribuan pasien.

Untungnya, penemuan ini berhasil menarik perhatian ahli virologi asal Jerman, Hendrik Streek. Dia dilaporkan sedang melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengungkap kebenaran dari gejala terbaru itu. Saat ini, Streek dan timnya sedang sibuk mengambil sample harian dari para pekerja yang terinfeksi dan tengah diisolasi di rumah sakit.

Mereka juga melakukan sesi wawancara khusus untuk mengetahui perkembangan gejala tersebut. Hasilnya pun sangat mengejutkan, dua pertiga responden mengaku mengalami gejala serupa yakni, hilangnya indera penciuman dan pengecap,

“Menurut mereka, gejala itu berlangsung selama beberapa hari,” kata Streek.

Temuan yang sama juga diungkapkan oleh Massimo Galli, Professor Penyakit Menular di University of Milan. Dia mencatat bahwa gejala ini akan muncul setelah pasien mengalami sesak napas, demam, dan gejala-gejala umum lainnya. Dalam arti lain, gejala tersebut tidak akan muncul pada diagnosis dini.

Sementara menurut Judy Stone yang berprofesi sebagai Dokter Spesialis Infeksi sekaligus kontributor Forbes, satu-satunya penyakit atau infeksi yang dapat menyebabkan hilangnya indera penciuman adalah Herpes simplex encephalitis. Dia mengaku tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Sampai saat ini, Judy mengaku belum dapat memastikan penyebab terjadinya gejala-gejala tersebut. Beberapa virus memang dapat menghancurkan sel atau reseptor sel di bagian hidung. Ada juga virus yang dapat menginfeksi otak melalui saraf sensorif penciuman. Menariknya, kemampuan virus dalam menginfeksi otak inilah yang diduga menjadi pemicu kegagalan pernapasan pada pasien positif COVID-19.

Laporan terakhir menyebutkan, dua orang ternama seperti blogger Arielle Charnas dan pemain film Frozen 2 Rachel Matthews, juga mengalami gejala hilangnya indera penciuman dan pengecap.

Alhasil, UK THT (British Association of Otorhhinolaryngology) dan BRS (British Rhinological Society), meminta agar setiap individu yang mengalami gejala tersebut untuk langsung mengisolasi diri.

“Hilangnya penciuman dan pengecap bisa jadi penandaan infeksi COVID-19,” demikian pernyataan resmi mereka. Demikian dilansir Okezone dari Forbes, Senin (23/3/2020).

(dwk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...