Disiplin Bantu Tekan Penyebaran

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR–Kedisplinan warga menjaga jarak bisa membantu menurunkan penyebaran virus korona. Di Sulsel, angkanya terus naik.

MALAM tadi, ada 9 tambahan pasien positif Covid-19. Hasil ini didapatkan berdasarkan hasil tes laboratorium di RS Unhas dan RSUP Wahidin Sudirohusodo. Kedua RS itu sudah mandiri dalam menguji sampel.

Selain Unhas dan RSUP, Balai Besar Penelitian Kesehatan Makassar juga sudah beroperasi. Sejauh ini sudah mulai menguji sampel. Dengan demikian, sudah ada tiga institusi yang bisa menguji sampel suspect korona di Sulsel.

“(Sehingga) hasil pemeriksaan lab, tidak lagi menunggu lama seperti sebelumnya,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Sulsel dr M Ichsan Mustari dalam konferensi pers daring, Rabu, 25 Maret.

Saat ini, kasus positif Covid-19 berjumlah 13 orang. Tambahan 9 pasien diberi kode kasus ke-773 sampai ke-781. Mereka dirawat di ruang isolasi: 5 di RSUP Wahidin, 1 RS Unhas, dan 3 di RS Siloam Makassar.

Akumulasinya, 12 pasien positif di Makassar (salah satunya telah meninggal) dan 1 pasien dirawat di RSUD Andi Makassau Parepare. Untuk memaksimalkan penanganan pasien dalam pengawasan (PDP) dan positif Covid-19, Sulsel juga mendapatkan 2.000-an alat pelindung diri (APD) untuk petugas medis.

APD ini selanjutnya didistribusikan ke beberapa rumah sakit rujukan Covid-19. Sembari berharap tak ada lagi tambahan pasien positif, dukungan masyarakat juga sangat dibutuhkan. Terutama membantu menjaga jarak, baik interaksi sosial (social distancing) maupun jarak fisik (physical distancing).

“Sangat diperlukan kedisiplinan dan kepatuhan masyarakat agar sedapat mungkin membuat jarak fisik,” imbuh Ichsan.

Perilaku hidup bersih dan sehat juga perlu terus digaungkan. Rajin mencuci tangan, pakai hand sanitizer, istirahat cukup, dan mengonsumsi gizi berimbang. Dengan begitu, peluang terpapar bisa makin diperkecil.

Lanjutkan Tracing

Di samping 13 kasus positif di Sulsel, terdapat total 158 orang dalam pemantauan (ODP), dan 89 pasien dalam pengawasan. //Selengkapnya lihat grafis//

Hanya saja, Pemprov Sulsel masih enggan membeberkan sebaran alamat pasien. Padahal, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebelumnya telah meminta pemerintah membukanya dengan alasan kepentingan publik.

Untuk setiap kasus positif, pemerintah langsung melakukan tracing (mencari jejak) terhadap pihak-pihak yang pernah berinteraksi dengan pasien. Metode ini yang digunakan sehingga kasus positif tambahan ditemukan.

“Tim bergerak cepat melakukan tracing. ODP dan PDP yang ada saat ini, adalah bagian dari hasil tracing itu,” papar Ichsan.

Kesiapan tiga laboratorium di Sulsel untuk memeriksa sampel, juga harus disambut baik. Jika terjadi lonjakan kasus positif terjadi, warga diimbau tak kaget. Sebab, uji lab makin dimudahkan yang selama ini semua sampel dikirim ke Jakarta.

Tes Gratis

Untuk pasien dengan indikasi Covid-19, seluruh pemeriksaan dan pengobatannya akan ditanggung. Namun, bagi mereka yang tanpa gejala melakukan uji lab, akan tetap dikenakan biaya.

“Orang tanpa gejala datang cek, akan dihitung sebagai check up,” papar Ichsan Mustari.

Warga yang memilih seperti ini, dikenakan tarif Rp380 ribu. Akan tetapi, pemeriksaan bagi ODP, tidak berbayar. Syaratnya, harus ada indikasi berdasarkan pemeriksaan dokter. Misalnya, orang yang datang ke faskes dengan gejala demam dan batuk.

“Kita tidak usah cemas dan panik. Kalau tidak ada gejala, tidak usah periksakan diri. Jangan juga secara proaktif periksakan diri. Itu medical check up,” katanya.

Sejauh ini, ada dua pasien meninggal dalam status PDP. Satu meninggal di RS
Pelamonia dan satu di RS Grestelina. Gugus Tugas Covid-19 Sulsel sedang melacak klasternya. Sementara hasil tes sampelnya belum keluar.

“Memang ada beberapa spesimen belum ada beritanya sampai sekarang,” terang Ichsan.

Tim Media Center Gugus Tugas Covid-19 Sulsel, Husni, mengatakan, data sebaran daerah merah (positif), kuning (PDP), dan hijau (ODP) sudah diperbaharui. Mereka memiliki situs sendiri yang dikelola lintas sektor. “Bisa dilihat kasusnya di situ,” katanya.

Tertinggi di Luar Jawa

Angka infeksi korona juga terus bertambah secara nasional. Jumlahnya 790 kasus, 31 sembih, dan 58 meninggal dunia. Pemerintah pusat pun meminta agar rapid test atau tes massal Covid-19 harus segera dilakukan.

Tahap awal, tes dilakukan untuk mereka yang punya potensi kontak langsung dengan pasien positif serta tenaga medis. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Ahmad Yurianto menyampaikan data positif Korona per tanggal 25 Maret 2020. Ada penambahan sebanyak 105 kasus, dari pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Rection).

Dia menjelaskan PCR adalah suatu metode pemeriksaan yang menggunakan sampel DNA dari cairan di kerongkongan. Sedangkan rapid test merupakan metode untuk mengetahui antibodi menggunakan immunoglobulin di dalam darah.

Kini, angka kasus di Sulsel merupakan yang terbesar di luar Jawa. Tertinggi ada di DKI Jakarta, Jawa Tengah, serta Jawa Barat. Juga ada Bali di bawah Sulsel.

Achmad Yurianto menekankan, semua daerah, utamanya dengan penyebaran virus yang cukup besar wajib melakukan rapid test massal. Pihaknya sudah membagikan 125 ribu alat rapid test ke 34 provinsi yang diterima diskes provinsi. (rdi-fik-ism-rin-fit-mum)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Fadel

Comment

Loading...