Relawan COVID-19, Negara Butuh 1.500 Dokter dan 2.500 Perawat

Foto : Iwan tri wahyudi/ FAJAR INDONESIA NETWORK

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pasien virus Corona (COVID-19) di Indonesia, terus meningkat. Hingga Kamis (26/3) jumlahnya 893 kasus. Sedangkan yang meninggal 79 orang. Dari jumlah tersebut terbanyak dari DKI Jakarta. Jumlahnya mencapai 495 kasus dengan 47 orang meninggal dunia. Skenario terburuk kasus positif Corona bisa mencapai 8.000 orang.

“Karena itu, perlu kami sampaikan latar belakang didirikannya rumah sakit darurat COVID-19 di Wisma Atlet, Kemayoran Jakarta. Ini adalah antisipasi pemerintah apabila penyebaran virus tidak bisa dibendung. Tentu, banyak orang akan terpapar oleh virus ini. Sementara apabila hanya mengandalkan rumah sakit yang ada, jelas tidak mungkin,” kata Pangdam Jaya Mayjen TNI Eko Margiyono di Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Kamis (26/3).

Wisma Atlet, lanjut Eko, disiapkan untuk menampung pasien jika penyebaran virus Corona terus bertambah hingga mencapai ribuan pasien. “Dari hasil simulasi Forkompimda DKI, karena Jakarta paling banyak terpapar virus ini, skenario terburuknya adalah jumlahnya bisa mencapai 6.000 sampai 8.000 orang positif COVID-19,” papar mantan Danjen Kopassus ini.

Karena itu, pemerintah bertindak cepat dengan mengubah Wisma Atlet menjadi rumah sakit darurat Corona. Semua elemen dilibatkan dalam pendirian rumah sakit tersebut. Yakni gabungan instansi Kemenkes, Kementerian PUPR, Kementerian BUMN, TNI, Polri, dan relawan. “Kalau skenario bertambah buruk, bisa gunakan tower empat dan lima,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui saat ini sudah ada dua tower di Wisma Atlet yang digunakan sebagai RS Darurat COVID-19. RS darurat memiliki daya tampung sebanyak 3.000 pasien. Tower tujuh sudah beroperasi dengan daya tampung 1.700 pasien. Sedangkan tower enam memiliki daya tampung 1.300 pasien.

“Rumah sakit darurat Wisma Atlet ini beda dengan yang lain. Karena menerapkan sistem pelayanan safe handling, dengan sistem video call. Kedua self karantina, ketiga limitasi kontak dengan petugas. Keempat apabila semakin memberat akan dirujuk ke RS rujukan,” tukasnya. Saat ini sudah ada beberapa pasien yang dirujuk ke RS rujukan pemerintah. Sebab, menunjukkan gejala yang berat selama dirawat di Wisma Atlet. “Ada beberapa pasien yang datang setelah diperiksa menunjukkan gejala berat. Selanjutnya pasien tersebut dirujuk,” ucapnya.

Hingga saat ini RS yang beroperasi sejak 23 Maret lalu telah merawat sebanyak 208 pasien. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo mengatakan masyarakat dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi telemedik atau telemedicine untuk upaya pencegahan dan penanganan COVID -19. Melalui telemedik, masyarakat dapat lebih siap secara dini dalam pencegahan dan penanganan menghadapi penyakit yang disebabkan SAR-CoV-2 atau COVID-19,” kata Agus.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bekerja sama dengan Aliansi Telemedik Indonesia (Atensi) memanfaatkan telemedik yang berbasis internet untuk memberikan beberapa pelayanan terkait COVID -19. “Manfaat itu mulai penyediaan informasi sebagai upaya edukasi dan kesiapsiagaan hingga berkonsultasi secara interaktif atau online,” jelasnya.

Menurut Agus, melalui layanan yang diakses secara online dengan perangkat gawai dan computer, berbagai informasi penting dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Seperti contoh cuci tangan yang benar, etika batuk maupun physical distancing.

Di samping itu, layanan ini membantu pemerintah dalam memberikan informasi COVID-19 yang benar sehingga masyarakat dapat mengantisipasi berita palsu (hoaks) maupun mengurangi kepanikan. “Manfaat penting lainnya yaitu pemberian informasi mengenai tingkat risiko warga terhadap COVID-19,” tandasnya.

Koordinator relawan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Andre Rahardian menyatakan dibutuhkan sekitar 1.500 dokter. Terutama dokter spesialis paru, dokter spesialis anestesi, dan juga dokter umum pranata lab. Selain itu, juga dibutuhkan sekitar 2.500 perawat, dan bagian administrasi rumah sakit sampai supir ambulans. “Ini semua kita panggil sebagai relawan untuk menghadapi pandemik ini,” tegas Andre.

Gugus tugas, kata Andre, sudah melakukan kerja sama dengan asosiasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan juga perguruan tinggi. Mereka diajak bergabung sebagai relawan menangani para pasien. Andre menuturkan, para relawan dari mahasiswa tingkat akhir akan menjadi lapisan kedua pada pencegahan. Mereka akan ditugaskan secara online untuk membantu melakukan konsultasi. “Teman-teman mahasiswa akan membantu konsultasi baik secara medis dan psikologis yang akan dilakukan melalui platform online,” paparnya. (khf/fin)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hamsah Umar

Comment

Loading...