Pasien Covid-19 Perlahan Membaik

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Tak semua pasien Covid-19 drop. Sebagian sudah membaik, meski belum ada pasien positif sembuh di Sulsel.

DI RSUD Andi Makkasau Parepare, misalnya. Saat ini ada empat pasien terkait Coronavirus Disease 2019 alias Covid-19 yang sedang dirawat. Dua positif, dua lainnya berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

Direktur RSUD Andi Makkasau Parepare dr Renny Anggraeny Sari mengatakan, dalam beberapa hari ini kondisi keempat pasien yang sedang dirawat perlahan mulai normal. Harapannya terus membaik.

Pada Minggu, 29 Maret, suhu tubuh dan organ vitalnya keempat pasien ini –jantung dan paru-paru–, juga sudah mulai normal. Suhu tubuh pun demikian. Sudah mencapai suhu orang normal.

“Meski memang keempatnya masih kadang batuk-batuk. Tetapi, suhu tubuhnya kini sudah dikisaran 36,7 derajat celcius,” ujar Renny.

Tak hanya itu, organ pernapasan mereka pun mulai membaik. Mereka sudah tak sesak napas lagi seperti saat pertama kali dirujuk di RSUD Andi Makkasau untuk dirawat. “Alhamdulillah, semoga kondisi ini terus membaik dan kembali normal seperti sedia kala,” harapnya.

Kepala Sub Bidang Humas Infokom RSUD Andi Makkasau Parepare Farida membeberkan salah satu langkah penanganan yang dilakukan oleh tim medis yang terjun menangani keempat pasien ini adalah menerapkan sistem perawatan yang ketat.

Salah satu caranya dengan menerapkan terapi sesuai dengan indikasi medis. “Terpenting, tentunya adalah suplai makanan bergizi dan seimbang yang harus terus dijaga dengan menerapkan pola hidup sehat serta obat medis lainnya,” bebernya.

Terlepas dari hal ini, pihaknya masih butuh alat pelindung diri (APD) untuk tim medisnya. Karena, sejauh ini sebenarnya masih kurang.

“Sejauh ini kita berusaha memenuhinya. Bahkan ada yang harus kami beli sendiri sembari berkoordinasi dengan Dinkes Provinsi Sulsel. Mohon doa warga agar wabah ini cepat berlalu,” tutupnya.

Sekadar diketahui dua PDP yang saat ini dirawat di RSUD Andi Makkasau merupakan warga dari Polman dan Sidrap. Sedangkan yang dinyatakan positif adalah warga Sidrap dan Pinrang. Keduanya terpapar virus korona usai dari Depok dan Makkah.

Adapun kedua pasien yang positif dirawat di RSUD Andi Makkasau sejak 17 Maret lalu. Disusul dua pasien lainnya pada 18 Maret.

68 Sembuh

Secara nasional, kini sudah 68 pasien yang sebelumnya positif Covid-19, sudah dinyatakan sembuh. Sebagian besar telah kembali ke rumah, sembari tetap melakukan pembatasan aktivitas sementara.

Di Sulsel, pasien positif sudah mencapai angka 47 orang, hingga Minggu, 29 Maret. Ada tambahan 15 kasus baru dibandingkan hari sebelumnya. Secara nasional, pasein positif korona mencapai 1.285 kasus.

Untuk pasien meninggal, sudah 114 orang, empat di antaranya dari Sulsel. Sejauh ini, sudah 6.500 spesimen yang telah diperiksa.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan, perawatan optimal telah diberikan kepada para pasien positif. Mereka yang tanpa gejala tetap terpapar korona, dirawat dengan cara isolasi diri.

“Kesehatan mereka terus dipantau oleh tim medis. Ada proses perawatan isolasi diri dan peningkatan sistem imun agar bisa melawan penularan virus tersebut,” bebernya.

Sementara mereka yang masuk kelompok rentan dan punya penyakit bawaan akan dirawat di rumah sakit. Misalnya, punya riwayat jantung dan diabates. Ia mengimbau masyarakat tak mendiskriminasi mereka yang positif.
Baik yang dirawat, yang sudah meninggal dunia. Tidak boleh ada perilaku mengucilkan para pasien positif. “Yang positif harusnya dilindungi. Bukan dikucilkan. Bantu mereka untuk bisa menjalani isolasi diri dengan baik. Yang sehat pun harus dilindungi agar mereka tidak sakit,” tambahnya.

Mudah Menular

Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Fajar Medika, Prof Dr dr Halim Mubin MSc SpPD-KPTI, mengungkapkan,
Social distancing berperan mencegah, menahan, atau memperlambat penularan lebih luas.

Jika terpapar virus korona, masyarakat tidak boleh menyembunyikannya. Mengungkapkan kondisi dengan jujur bisa memutus mata rantai Covid-19. Virusnya menyerang manusia melalui sistem pernapasan. Berada di tengah keramaian ternyatanya bisa meningkatkan risiko virus ini menyebar.

“Virus korona bisa menyebar melalui udara, kontaminasi benda sekitar, hingga kontak langsung jarak dekat,” ungkap Halim.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Muslim Indonesia (UMI), Dr A Rizki Amelia AP SKM MKes, menambahkan, sebenarnya masyarakat bukan abai terhadap larangan pemerintah. Namun khawatir ekonomi terganggu ketika terlalu lama di rumah.

“Kecuali sosial distancing yang diikuti dengan adanya sumbangan sukarela berupa kebutuhan pokok setiap harinya saya yakin masyarakat akan melakukan apa yang diinstruksikan pemerintah,” katanya.

Peran Gubernur

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengeluarkan edaran untuk semua kepala daerah. Edaran bernomor 440/2622/SJ berisikan tentang perintah pembentukan gugus tugas Covid-19 yang baru di daerah. Kepala daerah ditugaskan menjadi ketua gugus.

Plt Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Bachtiar mengatakan gubernur/bupati/wali kota, harus menjadi ketua gugus tugas di wilayahnya. Tak boleh diwakili pejabatn lain di setiap tingkatan daerah.

Gubernur pun menjabat sebagai anggota dewan pengawas gugus secara nasional. Sementara posisi pangdam/kapolda, serta posisi pimpinan lembaga lain di daerah bisa menjabat sebagai wakil ketua atau ketua harian.

Begitupun, kata dia, di Pemprov Sulsel. SK yang sudah dibuat dengan menunjuk pangdam sebagai ketua gugus harus dievaluasi. Posisi ketua gugus harus beralih ke gubernur, karena dianggap memiliki sumber daya lebih.

“Gubernur punya sarana dan SDM. Baik APBD, sarana kesehatan, tenaga medis, dan yang lain. Kepala daerah yang punya sumber daya, makanya harus memimpin,” bebernya. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Fadel

Comment

Loading...