Imbau Warga Tak Menolak Jenazah Covid-19 Dimakamkan, KNPI: Itu Mati Syahid

KNPI Sulsel

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulawesi Selatan meminta masyarakat untuk tidak menolak pemakaman korban diduga atau positif terpapar Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Ketua Bidang Keagamaan KNPI Sulsel, Ridho, mengatakan, wabah penyakit Covid-19 ini hingga proses pemakaman korban ditangani oleh petugas medis yang sangat profesional. Ia pun menyesalkan saat ini banyak terjadi penolakan warga terhadap jenazah pasien Covid-19.

“Berarti akan sedikit yang melayat yang menyolatkan jenazahnya, bahkan keluarganya pun tak boleh dekat mayat, tak boleh ikut menguburkan kecuali melihat dari jauh. Sebab, semua prosesi jenazah harus dilakukan tim medis yang terlatih sesuai aturan yang ada, seperti itu mekanismenya. Tetapi jangan ditolak jenazahnya,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa setiap orang yang meninggal terkena wabah maka insyaAllah meninggal dalam keadaan syahid. Ridho juga menyebutkan tiga hadis yang menegaskan syahidnya orang yang meninggal karena wabah.

Tiga hadis tersebut, yakni hadis riwayat Abu Daud Nomor 2704, Bukhory 615, dan Nasai 1846. Nabi Muhammad SAW bersabda ‘mati syahid selain gugur di jalan Allah (dalam majelis ilmu atau perang), meninggal karena terkena penyakit thaun (wabah), dan tenggelam’.

“Mati karena sakit radang selaput dada, meninggal karena sakit perut, meninggal karena terbakar, wafat terkena reruntuhan dan wanita muslimah yang meninggal dalam keadaan hamil atau ketika melahirkan adalah syahid,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, Nabi Muhammad SAW menambahkan orang yang wafat ketika berjemaah Salat Isya dan Subuh juga dalam kondisi syahid.

“Namun tidak termasuk mati syahid jika sengaja ingin mati dalam wabah penyakit tersebut. Ini artinya kita harus ikhtiar dengan sungguh-sungguh dan mentaati aturan dari ulama dan pemerintah yang otoritatif tentang masalah ini,” katanya.

Karena itu, dia meminta semua elemen bangsa untuk memberi penjelasan yang intens pada masyarakat tentang proses pemakaman jenazah pasien Covid-19.

“MUI pusat sudah keluarkan fatwa dengan detil tanggal 16 Maret 2020, termasuk prosesi penanganan jenazah sampai pemakamannya. Terjadinya penolakan tersebut akibat kurangnya komunikasi dan informasi pada masyarakat,” katanya.

Menurutnya, persoalan tersebut terjadi karena pemerintah setempat tidak turun tangan. Masalah iitu seharusnya sudah dapat dihindari oleh seluruh pemangku kebijakan atau pemerintah setempat sehingga pemakaman pasien Covid-19 tidak menemui kendala berarti.

Bagi dia, terjadinya penolakan jenazah suspect virus corona oleh masyarakat dimungkinkan, tidak dilakukan prosedur tepat penanganan protap jenazah pasien corona. Seharusnya, ucap dia, seluruh elemen pemerintah dari mulai pemerintah desa sampai dengan pemerintah pusat mengendalikan situasi agar tidak memunculkan penolakan.

“Ya kalau itu jenazah suspect corona memang ada protapnya, pemerintah harus mengikuti protap itu terutama pemda. Misalnya penguburannya harus diawasi ketat pihak kepolisian,” tutupnya. (fit)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam

Comment

Loading...