Ini Konsekuensi Ekonomi Jika Pemerintah Sulsel Terapkan Karantina Wilayah

Pedagang ikut terdampak merebaknya virus corona.

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Pemerintah secara resmi akan menerapkan skema pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dalam menangani penyebaran wabah virus corona Covid-19. Kebijakan ini ditempuh berdasarkan pada status kedaruratan kesehatan masyarakat akibat virus corona Covid-19 yang telah ditetapkan.

Meski begitu, muncul pula desakan untuk menerapkan karantina wilayah di sejumlah daerah. Karantina wilayah merupakan pembatasan penduduk dalam suatu wilayah termasuk wilayah pintu masuk beserta isinya yang diduga terinfeksi penyakit dan/atau terkontaminasi sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit atau kontaminasi.

Merujuk Pasal 55, ada sejumlah ketentuan lain dalam karantina wilayah, yang salah satunya mengatur selama dibelakukannya Karantina Wilayah, kebutuhan hidup dasar orang dan makanan hewan ternak yang berada di wilayah karantina menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat.

Lantas jika opsi ini dipilih pemerintah daerah khsusnya di Sulawesi Selatan, terdapat sejumlah konsekuensi yang harus ditanggung jika dilihat dari kacamata ekonomi.

Tim peneliti Logov Celebes membuat sebuah kajian jika pemerintah Sulsel menerapkan karantina wilayah akan berdampak pada aktivitas ekonomi.

Salman Samir, Peneliti Logov Celebes memaparkan, hampir semua aktivitas ekonomi akan terhenti dengan karantina wilayah, sehingga dampaknya terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi akan lebih besar selama periode karantina tersebut.

Bedasarkan hasil kajian tim LOGOV Celebes, dengan menggunakan skema karantina wilayah selama 1 bulan di Sulawesi Selatan, diperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020 akan turun menjadi 1,3 persen (y-o-y).

Meskipun demikian, opsi ini diperkirakan dapat mendorong terjadinya rebound secara cepat pada perekonomian Sulawesi Selatan pada kuartal III-2020, dengan asumsi karantina wilayah akan menghentikan penyebaran Covid-19 di Sulawesi Selatan.

“Jika skema karantina wilayah berjalan secara efektif maka perekonomian Sulawesi Selatan pada tahun 2020 akan tumbuh sebesar 5,05 persen. Lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai 6,92 persen,” jelas Salman Samir dalam keterangan tertulis yang diterima fajar.co.id, Kamis (2/4/2020).

Lebih spesifik, nilai peluang ekonomi yang hilang dari penurunan pertumbuhan tersebut sebesar Rp5,1 Triliun, atau memiliki selisih sebesar Rp1,4 Triliun dari opsi social distancing (Rp6,5 Triliun).

Perlu digarisbawahi, lanjut Salman, bahwa dalam pemodelan yang dilakukan hanya terbatas untuk mengamati variabel-variabel di sektor riil dan eksternal (perdagangan barang).

“Opsi karantina wilayah memang akan membuat perekonomian Sulawesi Selatan terjun bebas di kuartal II, namun dapat segera pulih kembali di kuartal selanjutnya,” pungkas dia. (Endra/Fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam

Comment

Loading...