Lippi Masih Tak Percaya Zidane Menanduk Materazzi di Final Piala Dunia 2006

Zinedine Zidane menanduk Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006/JOHN MACDOUGALL/AFP via Getty Images

FAJAR.CO.ID, ROMA—Pelatih veteran Italia, Marcello Lippi menggunakan lockdown akibat vurus corona untuk menonton pertandingan Piala Dunia 2006 dan semua partai final dimana ia terlibat sebagai juru taktik. Satu yang berulang-ulang ia saksikan adalah final Piala Dunia 2006 di Berlin, Jerman yang ia menangkan bersama Italia.

Partai puncak ini berakhir dengan kemenangan Italia melalui drama adu penalti. Selain perayaan gelar Gli Azzurri, insiden selama pertandingan juga menjadi sorotan dan terus dikenang. Insiden itu adalah tandukan Zinedine Zidane terhadap Marco Materazzi.

Lippi mengaku sangat terkejut dengan insiden yang berujung kartu merah pada Zidane. Menurutnya, ia sangat mengenal Zidane hampir tak percaya ia melakukan hal itu di lapangan apalagi pertandingan krusial seperti itu.

“Saya cukup terpana dengan perilaku Zidane. Saya bekerja dengannya di Juventus, dia adalah orang yang luar biasa, sangat rendah hati dan cerdas,” kata Lippi ketika berbicara kepada Rai Radio 1 dari rumahnya di Viareggio dikutip dari Football Italia.

Bagi Lippi, itu adalah partai final yang benar-benar emosional dan akan terus ia kenang sepanjang masa. Ia juga mengaku tidak pernah bosan melihatnya. “Saya harus menonton pertandingan itu 20 kali dan selalu emosional,” jelas Lippi.

Final itu berakhir 1-1 setelah perpanjangan waktu, dengan Italia mencetak lima gol tendangan penalti, termasuk algojo terakhir, Fabio Grosso. Lippi kemudian mengungkap alasannya memilih Grosso sebagai algojo terakhir.

“Saya memilih Grosso untuk penalti terakhir karena spesialis tendangan penalti terbaik sudah ditugaskan dan saya ingat Grosso mendapatkan penalti terakhir melawan Australia, mencetak gol melawan Jerman. Saya mengatakan kepadanya: ‘Anda adalah orang terakhir, jadi Anda mengambil penalti kelima’. Dia tidak bisa mempercayainya,” tutur Lippi.

Untuk pengalaman lain, Lippi berkata bahwa beberapa di antaranya lebih sial daripada yang lain. “Kekalahan yang meninggalkan rasa pahit di mulut adalah yang terjadi di Liga Champions 2003 di Manchester, ketika kami kalah adu penalti dengan Milan,” tandasnya. (amr)

KONTEN BERSPONSOR

Komentar