Pimpinan KPK Minta Gaji Naik 200 Persen, Jeremi Teti: Edan, Dimana Empatinya

eremy Teti (Instagram Jeremy Teti)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Para pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah disorot publik lantaran meminta kenaikan gaji di tengah wabah virus Korona. Muncul kabar bahwa lembaga antirasuah itu meminta untuk naik gaji hingga 200 persen atau senilai Rp300 juta.

Jeremy Teti pun menilai hal ini tidak pantas di tengah masyarakat sedang mengalami kesusahan akibat terdampak penyebaran Covid-19. Mantan pembawa acara berita itu menganggap kabar ini tidak tepat berembus sekarang karena menimbulkan kesan para pimpinan KPK menari di atas penderitaan masyakat.

“Edan. Di mana rasa empatinya? Di mana sense of crisis dari para penyelenggara negara ini? Mereka tidak memikirkan jutaan warga Indonesia terdampak secara ekonomi,” kata Jeremy Teti kepada JawaPos.com (grup fajar.co.id), Jumat (3/4).

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun JawaPos.com, permintaan naik gaji ini bermula dari adanya surat tugas dari pimpinan KPK ke Biro SDM. Menindaklanjuti hal tersebut, beberapa perwakilan dari KPK dikabarkan melakukan rapat dengan pihak Ditjen Perundangan-undangan Kemenkumham, perwakilan Kemenpan RB dan Kemenkeu.

Rapat itu dikabarkan membicarakan tentang revisi Pembahasan Peraturan Pemerintah( PP) Nomor 82 Tahun 2015, atas perubahan kedua atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 29 Tahun 2006 tentang Hak Keuangan, Kedudukan Protokol, dan Perlindungan Keamanan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi yang dilakukan beberapa waktu lalu. Rapa itu kabarnya digelar di kantor Kemenkumham.

Jika benar hal ini terjadi, Jeremy Teti mengaku ia akan sangat gusar. Menurutnya, apabila pimpinan KPK ingin meminta kenaikan gaji, seharusnya dilakukan ketika perekonomian Indonesia dalam kondisi baik.

“Padahal mereka digaji dari pajak yang dibayar oleh masyarakat. Tunggu perekonimian bangsa stabil kembali baru memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan,” kata Jeremy.

Terkait hal ini, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri sudah angkat bicara. Dia mengaku bahwa pihaknya tidak pernah mengusulkan kenaikan gaji untuk pimpinan KPK. Meski begitu, Firli membenarkan adanya permintaan kenaikan gaji. Tapi diajukan oleh pimpinan KPK periode sebelumnya.

“Terkait usulan penyesuaian gaji pimpinan KPK sudah disampaikan atau diajukan oleh pimpinan lama jaman Pak Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Jauh sebelum pimpinan periode pimpinan KPK sekarang tanggal 15 Juli 2019,” ujar Firli kepada wartawan, Kamis (2/4/).

Firli justru mengklaim pihaknya meminta agar usulan kenaikan gaji untuk pimpinan KPK dibatalkan pembahasannya dengan pihak-pihak terkait. Permintaan itu, disebut Firli, merupakan hasil kesepakatan bersama para pimpinan KPK. (jpc/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hamsah Umar

Comment

Loading...