Benarkah Haram Hukumnya Laki-laki Muslim Mencukur Jenggot?

Ilustrasi Jenggot

FAJAR.CO.ID– Benarkah haram hukumnya bagi laki-laki muslim mencukur jenggotnya? Bahkan termasuk dosa besar karena jenggot yang dicukur menyalahi perintah Allah SWT? Mohon penjelasan. (Fathoni, 081332394xxx).

Membicarakan persoalan mencukur jenggot terkait sekali dengan persoalan memanjangkan jenggot. Dalam kajian fikih, memanjangkan jenggot termasuk perbuatan yang menjadi sunah yang dianjurkan. Hal itu sebagaimana hadis Nabi SAW riwayat Imam Bukhari pada bab taqlim al-azfar dari sahabat Ibn ‘Umar, Nabi SAW bersabda : “berperilakulah kalian dengan perilaku yang berbeda dengan orang-orang musyrik, panjangkan jenggot dan potonglah kumis”.

Perintah Nabi SAW itu ternyata terkait dengan kebiasaan orang-orang Persia saat itu yang suka memotong jenggot. Karena itu lalu diperintahkan memanjangkan jenggot. Terhadap perintah itu secara mafhum bisa dimengerti, sekaligus dilarang mencukurnya.

Bagaimanakah memaknai perintah memanjangkan jenggot, yang secara mafhum larangan mencukurnya itu? Tampaknya ulama berbeda pendapat. Bahkan Ibn ‘Umar sendiri menggenggam jenggotnya lalu mencukur sisanya ketika melakukan haji atau umrah. Mazab Malikiyyah dan Hanabilah mengharamkan mencukur jenggot, sementara Mazab Hanafiyyah menghukumi makruh secara tahrim (mendekati haram), karenanya dianjurkan mencabutnya bukan mencukurnya. Namun Mazab Syafi’iyyah menghukuminya makruh secara tanzih, sebagaimana disampaikan Imam Nawawi, karena termasuk 10 perkara yang dimakruhkan bagi laki-laki.

Terkait dengan pertanyaan di atas, benar laki-laki muslim haram mencukur jenggotnya dalam pandangan Mazab Malikiyyah dan Hanabilah. Namun hanya makruh tahrim dalam pandangan Hanafiyyah dan bahkan hanya makruh tanzih dalam pandangan Mazab Syafi’iyyah.

Persoalan dosa akibat perbuatan pelanggaran hukum dalam persoalan ini, tentu perlu dilihat terlebih dahulu dalam pandangan mazab siapa. Dan bisa jadi dosa yang terjadi karena menyalahi fitrah dari Allah. Karena itu perlu sikap yang bijak dalam menghadapi persoalan ini. Demikian uraian kami, mohon maaf atas kekhilafan saya. (Khamim, Fakultas Syariah IAIN Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Edy Arsyad

Comment

Loading...