Kemenkes Larang Penggunaan Bilik Disinfektasi di Tempat Umum, Ini Dampak Buruknya

Sabtu, 4 April 2020 15:27

TERTUTUP: Warga berada di dalam bilik diinfektan yang disediakan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. (SALMAN TOYIBI/JAWA...

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan edaran terkait penggunaan bilik disinfektasi di fasilitas umum. Edaran ini teregister dalam surat Nomor HK.02.02/III/375/2020 tertanggal 3 April 2020 yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Kirana Pritasari.

Kemenkes menilai penggunaan bilik disinfektasi memiliki sisi negatif bagi manusia. Kemenkes menemukan beberapa cairan yang digunakan untuk bilik ini yaitu diluted bleach (larutan pemutih/natrium hipoklorit), klorin dan sejenisnya, etanol 70 persen, amonium kuartemer (seperti benzalkonium klorida), hidrogen peroksida (H202) dan sebagainya.

Disinfektan tersebut merupakan cairan yang digunakan untuk mendisinfeksi mangan dan permukaan, seperti lantai, perabot, peralatan kerja, pegangan tangga atau eskalator, moda transportasi, dan lain lain.

Menurut WHO, menyemprotkan disinfektan ke tubuh dapat berbahaya untuk membran mukosa seperti mata dan mulut. Sehingga berpotensi menimbulkan risiko terhadap kesehatan dan merusak pakaian.

“Pajanan disinfektan langsung ke tubuh secara terus-menerus dapat menyebabkan iritasi kulit dan iritasi pada saluran pernafasan,” kata Kirana dalam edaran tersebut.

Selain itu, penggunaan larutan hipoklorit pada konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan kulit terbakar parah. Atas dasar itu, Kemenkes merekomendasikan Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota agar tak lagi menggunakan bilik disinfektasi di fasilitas umum. “Tidak menganjurkan penggunaan bilik disinfeksi di tempat dan fasilitas umum serta permukiman,” imbuh Kirana.

Bagikan berita ini:
9
6
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar