Milan yang Malang

AC Milan juara Liga Champions 2007 di Yunani/Jamie McDonald/Getty Images

FAJAR.CO.ID, MILAN—AC Milan begitu perkasa di era tahun 90-an. Mereka tak hanya menguasai liga domestik Italia namun juga menjadi kekuatan menakutkan di kompetisi Eropa. Sayang, mereka kini seperti raksasa yang sedang tertidur pulas.

NAMA besar Milan perlahan mulai tenggelam setelah meraih gelar Liga Champions 2007 silam. Dalam satu dekade terakhir, prestasi mereka bahkan termasuk bobrok. Setelah scudetto pada musim 2010/2011, mereka hanya mampu menambah satu trofi baru di lemari mereka.

Satu-satunya piala yang bisa mereka dapatkan adalah trofi Piala Super Italia pada 2016. Selebihnya, Milan hanya menjadi penonton selebrasi juara klub rival, khususnya Juventus yang mendominasi kompetisi domestik.

Bobroknya pencapaian Milan bisa dilihat dari banyaknya pelatih yang keluar masuk di tim kota mode ini. Termasuk Massimiliano Allegri yang mengambil alih klub pada 2010 dan menjadi penyumbang scudetto terakhir, Milan tercatat mempekerjakan 10 pelatih.

Sembilan pelatih lainnya yakni Mauro Tassotti, Clarence Seedorf, Filippo Inzaghi , Sinisa Mihajlovic, Cristian Brocchi, Vincenzo Montella, Gennaro Gattuso, Marco Giampaolo, dan Stefano Pioli. Khusus musim ini, Milan sudah menggunakan jasa dua pelatih.

Bobroknya pencapaian Milan membuat mereka tidak pernah lagi tampil di Liga Champions sejak musim 2012/2013. Dalam tujuh musim terakhir, capaian terbaik mereka di Serie A adalah finis di tempat kelima musim lalu meski tidak bisa tampil di Liga Europa akibat sanksi dari UEFA.

Musim ini sendiri, Tim Merah Hitam berada di peringkat ketujuh saat liga dihentikan di pekan ke-26. Mereka terpaut 27 poin dari Juventus yang memuncaki klasemen. Dengan jarak poin yang cukup signifikan dengan tim peringkat keempat, mereka butuh keajaiban untuk finis di zona Liga Champions.

Legenda Milan, Demetrio Albertini menegaskan, peraih tujuh gelar Liga Champions itu saat ini dalam fase kebingungan. Ia menyebut mantan klubnya tidak memiliki proyek olahraga yang jelas sehingga mereka harus selalu memulai dari awal setiap musimnya.

“Menurut saya ada kebingungan besar. Saya percaya bahwa Milan telah kehilangan elemen yang penting. Sekarang, mereka membutuhkan proyek olahraga yang jelas. Tidak ada gunanya memulai dari awal setiap tahun,” kata Albertini kepada La Gazzetta dello Sport.

Direktur teknis FIGC itu menegaskan, Rossoneri sudah tepat berinvestasi pemain muda. Akan tetapi, pemain muda tersebut membutuhkan lingkungan dengan pemain yang lebih berpengalaman agar bisa berkembang menjadi pemain top.

“Berinvestasi pemain muda itu benar, tetapi anak-anak di Italia tidak cukup. Pemain berpengalaman diperlukan untuk membantu anak-anak tumbuh dan saya mengatakan ini karena pengalaman. Tanpa itu, para pemain muda tidak akan cukup. Mereka tidak dapat memiliki konsistensi,” jelasnya.

Legenda Milan, Ricardo Kaka juga “muncul” untuk berbicara soal pengalamannya bermain di AC Milan. Ia mengaku mencapai puncak karier mereka di sepak bola bersama Rossoneri. Pemain asal Brasil itu melalui Instagram resmi FIFA menyebut waktunya di Milan sangat luar biasa.

“Saya tidak memiliki momen tunggal, tetapi sebagian besar momen terbaik dalam karier saya adalah di Milan: trofi Liga Champions pada 2007, Piala Dunia Klub, Ballon d’Or dan Penghargaan Pemain Terbaik FIFA,” ujarnya dikutip Football Italia.

Mantan bomber Milan, Andriy Shevchenko juga “mengingatkan” nama besar klub ini. Sheva yang menghabiskan tujuh musim bersama Rossoneri sebelum pergi ke Chelsea dan Dinamo Kiev, lalu pensiun pada 2012 mengaku Milan menjadikan dirinya sebagai pemenang.

“Mereka yang membuat saya menjadi pemenang Liga Champions dan membantu saya mencapai segalanya dalam karier saya di sepak bola,” kata pelatih timnas Ukraina tersebut di akun twitter resmi Rossoneri.

Sheva berusia 22 tahun ketika datang di Italia. Pelatih pada saat itu, Alberto Zaccheroni. Di musim perdananya, ia langsung menjadi Capocannoniere alias top skor. Pada musim 2003/2004, Sheva memenangkan Scudetto pertamanya sekaligus meraih gelar Liga Champions dan Ballon d’Or.

“Itu sangat emosional (gelar Ballon d’Or), terutama ketika diserahkan kepada saya di San Siro di pertandingan kandang berikutnya, di depan para penggemar Milan. Melihat semua orang itu tak terlupakan,” tandasnya. (amr)

RAPOR SERIE A MILAN 1 DEKADE TERAKHIR

Musim 2019/2020: Peringkat 7 (pekan ke-26)

Musim 2018/2019: Peringkat 5

Musim 2017/2018: Peringkat 6

Musim 2016/2017: Peringkat 6

Musim 2015/2016: Peringkat 7

Musim 2014/2015: Peringkat 10

Musim 2013/2014: Peringkat 8

Musim 2012/2013: Peringkat 3

Musim 2011/2012: Peringkat 2

Musim 2010/2011: Peringkat 1                  

PELATIH MILAN 10 MUSIM TERAKHIR

Massimiliano Allegri  (Italia): 2010–2014

Mauro Tassotti (caretaker/Italia): 2014

Clarence Seedorf (Belanda): 2014

Filippo Inzaghi  (Italia): 2014–2015

Siniša Mihajlović (Serbia): 2015–2016

Cristian Brocchi                 (Italia): 2016

Vincenzo Montella (Italia): 2016–2017

Gennaro Gattuso (Italia): 2017–2019

Marco Giampaolo (Italia): 2019

Stefano Pioli (Italia): 2019–

PRESTASI AC MILAN

Serie A: 18 juara (1901, 1906, 1907, 1950–51, 1954–55, 1956–57, 1958–59, 1961–62, 1967–68, 1978–79, 1987–88, 1991–92, 1992–93, 1993–94, 1995–96, 1998–99, 2003–04, 2010–11)

Serie B: 2 juara (1980–81, 1982–83)

Coppa Italia: 5 juara (1966–67, 1971–72, 1972–73, 1976–77, 2002–03)

Supercoppa Italiana: 7 juara (1988, 1992, 1993, 1994, 2004, 2011, 2016)

Liga Champions: 7 juara (1962–63, 1968–69, 1988–89, 1989–90, 1993–94, 2002–03, 2006–07)

Liga Europa: 2 (1967–68, 1972–73)

Piala Super Eropa: 5 juara (1989, 1990, 1994, 2003, 2007)

Intercontinental Cup: 3 juara (1969, 1989, 1990)

Piala Dunia Antar-klub: 1 (2007)

Sumber data: Wikipedia/bs

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Amir

Comment

Loading...