OJK Berikan Stimulus, Resiko Kredit Bermasalah Diprediksi Tepat Naik di Atas 3 Persen


FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan stimulus relaksasi namun diperkirakan risiko kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) akan berada di atas tiga persan dari posisi saat ini 2,7 persen.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ariyo Irhamna mengatakan, di tengah kondisi seperti saat ini sudah pasti NPL akan melonjak tajam.

Dia menilai, langkah OJK dengan memberikan stimulus relaksasi terhadap perbankan sudah sangat tepat. Hanya saja, kata dia, dibutuhkan pengawasan yang super ketat dalam mengawal kebijakan tersebut. “Tinggal sosialisasi dan monitor kebijakan OJK tersebut,” kata dia dikutip dari Fajar Indonesia Network (FIN), Jumat (3/4).

Ariyo juga menyoroti kinerja OJK yang kurang optimal dalam mengawasi perbanakan di tengah pandemi corona. Hal itu juga salah satu meningkatkan laju NPL. “Juga OJK akhir-akhir ini selalu tidak update statistik perbankan Indonesia, sehingga membuat civil society sulit untuk memonitor NPL,” ujar dia.

Soal berapa kisaran kenaikan NPL, dia belum bisa mengkalkulasikannya. Namun, pandemi corona ini yang paling dirasakan dampaknya adalah para pelaku Usaha Mikro, Kecil, , dan Menengah (UMKM). “Saya tidak tahu persis ya naik berapa namun kemungkinan besar akan sangat signifikan, terutama kredit usaha dan UMKM,” pungkas dia.

Sementara itu, Ekonom Senior Fauzi Ichsan mengatakan, kenaikan NPL lantaran mendapat tekanan dari imbas pandemi virus corona di Indonesia. Menurutnya, relaksasi untuk perbankan tak mampu menurunkan risiko kredit bermasalah.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar