OJK Berikan Stimulus, Resiko Kredit Bermasalah Diprediksi Tepat Naik di Atas 3 Persen

Sabtu, 4 April 2020 14:25

“Stimulus relaksasi kredit justru membuat NPL melonjak di angka 15 persen dari poisis saat ini 11 persen. NPL bisa saja ditahan dengan restrukturisasi, kolektabilitas 1 dan kolektabilitas 2 direstrukturisasi, sehingga tidak turun ke kolektabilitas 3, kolektabilitas 4, atau kolektabilitas 5. Perlu dipertimbangkan kolektabilitas 1 dan 2 akan dampak ke cashflow, jangan sampai NPL secara accounting karena restrukturisasi dibolehkan,” ujarnya di Jakarta, kemarin (3/4/2020).

Dia menjelaskan, prediksi NPL di atas 3 persen merupakan skenario paling buruk apabila pemerintah tak mampu mengatasi para nasabah akibat merebaknya virus corona. Kondisi demikian, tentu kan berdampak pada kinerja perbankan secara nasional.

Lebih jauh dia mengatakan, jika terjadi risiko kredit yang saat ini sebesar 11 persen menjadi NPL semua, maka rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perbankan nasional sebesar 23 persen masih dapat diserap (absorb). “Namun dengan catatan, asalkan CAR perbankan relatif bagus masih 23 persen, kalaupun credit at risk 11 persen, jadi NPL masih bisa di-absorb oleh bantalan modal bank. Walaupun bagi bank tertentu akan kesulitan,” papar dia.

Menurut dia, modal perbankan nasional sampai saat ini masih kuat sehingga bisa menahan apabila terjadi krisis. Namun, kata dia, kondisi itu tak sama bila dilihat dari individual bank. “Berkaca pada 1998-1999 rekapitalisasi perbankan capai Rp600 triliun, NPL pada saat itu separuh dari balance sheet 40-50 persen. Jadi perbankan Indonesia pernah jauh lebih parah dari sekarang,” ucap dia.

Bagikan:

Komentar