RS Jangan Telantarkan Pasien

Suasana penyemprotan disinfectan dalam rangka pencegahan Covid 19 yang di lakukan oleh petugas kepolisian dari Polrestabes Makassar,Shabara dan Brimob di kompleks Phinisi Recidence samping rumah sakit Faisal jum'at 3 April 2020. NURHAFI/FAJAR

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR–Pemda mesti tegas. Banyak pasien non-Covid-19 ditolak di RS umum yang bukan rujukan korona.

Ketegasan itu mesti dibarengi dengan langkah cepat penyediaan perlengkapan standar. Agar, tenaga medis bisa melayani dengan aman. Sebab, pasien korona bisa saja datang ke RS umum.

Parman Parakkasi, Staf Ahli Gubernur Sulbar Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, termasuk yang merasakan susahnya mendapat perawatan lanjutan. Padahal, ia non-Covid-19.

Kemarin, rumahnya di Jl Faisal X, Kelurahan Banta-Bantaeng Kecamatan Rappocini, ramai. Itulah rumah duka. Parman mengembuskan napas terakhir di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUP Wahidin Sudirohusodo, tepat Pukul 00.45 Wita dini hari, Jumat, 3 April.

Pria yang dikenal humoris oleh orang-orang terdekatnya itu, harus menghadap sang ilahi akibat pecah pembuluh darah di otak. Sebelum meninggal, Parman sempat ditolak di beberapa rujukan rumah sakit. Salah satunya RS Awal Bros, alasan pihak rumah sakit bahwa ruang ICU penuh.

Kerabat Parman, Abdul Haris mengatakan awalnya, iparnya itu hanya pingsan, sehingga dilarikan dan dirawat di RS Ibnu Sina Makassar. Di sana, Parman diminta untuk melakukan CT-Scan. Karena di Ibnu Sina tidak lengkap, lokasi CT-Scan diarahkan ke RS Awal Bros, Kamis, 2 April.

Usai CT-Scan, Parman dibawa kembali ke Ibnu Sina. Malam hari, ia pendarahan hebat di bagian kepala. Keluarga lalu meminta agar dirujuk di RS terdekat dari Ibnu Sina. Ia harus menjalani operasi, sementara Ibnu Sina tak memiliki alat operasi untuk itu.

Awal Bros menjadi pilihan, pasalnya dianggap paling dekat. “Nah kami meminta dirujuk di RS besar. Ada tujuh RS yang dikirimi permintaan rujukan, tetapi semua menolak,”tuturnya.

Keluarga lalu mencoba mencari info. Bisa dirujuk ke RSUP Wahidin. Setelah menunggu beberapa menit, RS Wahidin memberikan konfirmasi untuk pasien bisa dibawa ke sana.

“Tak beberapa lama setelah sampai dan ditangani di RS Wahidin, almarhum dinyatakan sudah tak bernyawa,”ucapnya.

Adik kandung Parman, Dr Padlia Parakasi mengatakan jenazah kakaknya dikebumikan di pemakaman Sudiang, Pukul 16.00 Wita.
Diketahui sebelum meninggal, almarhum telah menyelesaikan promosi doktornya di Fakultas Kelautan dan Perikanan Unhas.

“Rencana almarhum akan diwisuda 17 Maret lalu. Namun, adanya isu wabah virus korona di Makassar, membuat wisuda tersebut diundur,”tuturnya.

Pria kelahiran 1969 ini awalnya seorang akademisi di Universitas Tadulako, Palu. Ia merupakan dosen di Fakultas Peternakan Perikanan (Fapetkan) sebelum akhirnya memilih berkarier menjadi pejabat struktural di pemerintahan.

Tetap Layani

Pelayanan kesehatan untuk pasien non-Covid-19, memang kini menjadi keluhan. Banyak yang tak terlayani, bahkan berujung kematian.

Kementerian Kesehatan pun meminta pelayanan umum tetap diperhatikan. Terutama RS yang tak ditunjuk menjadi pusat rujukan Covid-19, bisa memaksimalkan layanan Kesehatan umum kepada masyarakat.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, peran Kemenkes sebetulnya terbatas, untuk mengintervensi RS di daerah. Dia berharap ada peran lebih besar dari dinas kesehatan daerah.

Khusus untuk RS pusat, seperti RS Wahidin, sebetulnya tak ingin diforsir untuk pelayanan Covid-19. Pasalnya, ruang perawatan yang terbatas, serta punya fasilitas memadai untuk pelayanan umum.

“Untuk kondisi di daerah tidak semua harus ke pemerintah pusat. Semestinya ada peran pemda setempat, kan ada kebijakan desentralisasi,” bebernya.

Sementara Dirjen Pelayanan Kesehatan, Kemenkes Bambang Wibowo mengatakan RS yang tak ditunjuk sebagai rujukan Covid-19 sebetulnya difokuskan untuk pelayanan umum. Baik pemerintah pusat dan pemerimtah daerah sudah menunjuk jejaring khusus untuk integrasi rujukan tersebut.

Hanya saja kasus Covid-19, kata dia, kerap muncul di rumah sakit yang tak menjadi pusat rujukan. “Makanya semua RS diharapkan bisa memberikan pelayanan Covid. Karena hal tersebut kerap terjadi,” bebernya. (wis-ful/abg-zuk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Edy Arsyad

Comment

Loading...