RS Jangan Telantarkan Pasien

Sabtu, 4 April 2020 13:56

Suasana penyemprotan disinfectan dalam rangka pencegahan Covid 19 yang di lakukan oleh petugas kepolisian dari Polresta...

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR–Pemda mesti tegas. Banyak pasien non-Covid-19 ditolak di RS umum yang bukan rujukan korona.

Ketegasan itu mesti dibarengi dengan langkah cepat penyediaan perlengkapan standar. Agar, tenaga medis bisa melayani dengan aman. Sebab, pasien korona bisa saja datang ke RS umum.

Parman Parakkasi, Staf Ahli Gubernur Sulbar Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, termasuk yang merasakan susahnya mendapat perawatan lanjutan. Padahal, ia non-Covid-19.

Kemarin, rumahnya di Jl Faisal X, Kelurahan Banta-Bantaeng Kecamatan Rappocini, ramai. Itulah rumah duka. Parman mengembuskan napas terakhir di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUP Wahidin Sudirohusodo, tepat Pukul 00.45 Wita dini hari, Jumat, 3 April.

Pria yang dikenal humoris oleh orang-orang terdekatnya itu, harus menghadap sang ilahi akibat pecah pembuluh darah di otak. Sebelum meninggal, Parman sempat ditolak di beberapa rujukan rumah sakit. Salah satunya RS Awal Bros, alasan pihak rumah sakit bahwa ruang ICU penuh.

Kerabat Parman, Abdul Haris mengatakan awalnya, iparnya itu hanya pingsan, sehingga dilarikan dan dirawat di RS Ibnu Sina Makassar. Di sana, Parman diminta untuk melakukan CT-Scan. Karena di Ibnu Sina tidak lengkap, lokasi CT-Scan diarahkan ke RS Awal Bros, Kamis, 2 April.

Usai CT-Scan, Parman dibawa kembali ke Ibnu Sina. Malam hari, ia pendarahan hebat di bagian kepala. Keluarga lalu meminta agar dirujuk di RS terdekat dari Ibnu Sina. Ia harus menjalani operasi, sementara Ibnu Sina tak memiliki alat operasi untuk itu.

Komentar


VIDEO TERKINI