Virus Corona Sudah Ada di Tubuh Manusia Sejak Lama?

Sabtu, 4 April 2020 13:22

Ilustrasi wabah virus corona. Foto: diambil dari Marca

FAJAR.CO.ID,JAKARTA — Para ilmuwan dan pakar kesehatan masih berlomba menentukan dari mana sebenarnya virus corona atau COVID-19.

Selain itu, mereka juga masih mencari vaksin untuk membantu menghentikan virus yang terus menyebar di berbagai negara itu.

Sayangnya, kita masih belum memiliki semua jawabab yang dibutuhkan. Apa yang kita tahu, bagaimanapun sudah cukup untuk mengistirahatkan teori konspirasi baru-baru ini yang mengatakan bahwa rekayasa genetika di laboratorium yang berfungsi sebagai senjata biologis untuk perang.

Dengan mengingat hal itu, penelitian baru menunjukkan beberapa kemungkinan baru yang menarik mengenai asal usul virus baru itu.

Salah satunya menyatakan bahwa virus itu sendiri mungkin telah beredar tanpa membahayakan manusia selama beberapa waktu sebelum menjadi pandemi.

“Mungkin saja nenek moyang SARS-CoV-2 melompat ke manusia, dan memperoleh (fitur genomik baru) melalui adaptasi selama transmisi manusia ke manusia yang tidak terdeteksi,” menurut tim di balik penelitian baru ini menulis dalam penelitian ini.

“Setelah diperoleh, adaptasi ini akan memungkinkan pandemi lepas landas dan menghasilkan sekelompok kasus yang cukup besar,” kata Kristian Andersen, salah satu peneliti dan ahli imunologi di Scripps Research, seperti dilasir laman MSN, Kamis (2/4).

Dengan membandingkan data urutan genom yang tersedia untuk jenis virus coronavirus yang diketahui, kita bisa dengan pasti menentukan bahwa SARS-CoV-2 berasal melalui proses alami.

Dua fitur virus, mutasi pada bagian RBD dari protein lonjakan dan tulang punggungnya yang berbeda, mengesampingkan manipulasi laboratorium sebagai potensi asal untuk SARS-CoV-2.

Menurut tim peneliti, teori pertama adalah bahwa seleksi alam terjadi pada inang hewan dan kemudian dipindahkan ke manusia, sedangkan hipotesis kedua menunjukkan bahwa seleksi alam terjadi pada manusia setelah kita tertular virus dari inang hewan.

Tentu saja, kedua hipotesis itu tetap saja hipotesis, dan masih banyak yang diperlukan untuk menguji apakah salah satu dari keduanya menyebabkan pandemi ini. Namun, hal itu memunculkan kemungkinan baru terkait pandemi yang terjadi saat ini.(fny/jpnn)

Komentar