1 Pekerja Positif Covid-19, 2 Pusat Grosir di Surabaya Tutup

SUDAH SEPI, KINI KOSONG: Para pedagang dan pegawai di Pasar Kapasan berkemas dan mengosongkan toko-toko setelah pemkot memutuskan penutupan pasar tersebut. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)

FAJAR.CO.ID, SURABAYA– Persebaran virus korona di Surabaya sudah mencapai sendi vital perekonomian warga. Terbaru, dua pasar yang menjadi pusat grosir dipastikan lumpuh. Dua pusat grosir di Surabaya Utara itu adalah Pasar Kapasan dan Pusat Grosir Surabaya (PGS).

Keputusan sudah diambil pemkot untuk Pasar Kapasan. Pasar yang sebagian besar pedagangnya berjualan pakaian dan bahan-bahannya itu bakal mati total selama dua pekan mendatang.

Untuk sementara, Pemkot Surabaya memutuskan menutup salah satu pasar grosir terbesar di Kota Pahlawan tersebut. Penutupan dilakukan setelah salah seorang pekerja positif menjadi korban virus korona atau Covid-19.

Berdasar surat resmi dari Perusahaan Daerah (PD) Pasar Surya, penutupan secara resmi dilakukan mulai kemarin (4/4). Meski begitu, hingga kemarin sore, pasar belum ditutup total. PD Pasar Surya masih memberikan kesempatan kepada pedagang untuk mengemasi barang-barang.

Humas PD Pasar Surya Zaini menuturkan, penutupan dilakukan atas berbagai pertimbangan. Kebijakan tersebut diputuskan untuk menyelamatkan banyak orang. ’’Mungkin ini berat bagi pedagang. Namun, kami meminta seluruhnya legawa,’’ kata Zaini.

Mantan jurnalis itu menjelaskan bahwa salah seorang pekerja yang aktif di pasar positif menjadi korban Covid-19. Sebelumnya, dia dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Diduga, pasien berkontak dengan sejumlah pedagang di pasar.

Zaini menambahkan, pasar akan ditutup total mulai hari ini (5/4). Dengan adanya penutupan, otomatis seluruh pengunjung dilarang masuk. PD Pasar Surya bakal berkoordinasi dengan satpol PP dan kepolisian untuk menertibkan masyarakat.

’’Pedagang tetap boleh masuk, namun harus memakai APD dan mematuhi protokol kesehatan,’’ tambah Zaini. Dia menjelaskan, hingga kini masih satu orang yang ditetapkan positif terkena virus korona. Petugas kesehatan masih melakukan tracking untuk mengetahui siapa saja yang menjalin kontak dengan korban.

Kepala Bagian Administrasi Perekonomian dan Usaha Daerah Surabaya Agus Hebi Djuniantoro menyatakan, pemerintah berusaha mengambil langkah cepat. Pemkot tak ingin ada persebaran virus di pasar. ’’Aktivitas di pasar cukup padat. Kami khawatir jumlah korban bertambah,’’ ungkap Hebi.

Dia menjelaskan, seluruh pedagang pun otomatis masuk kategori orang dalam pemantauan (ODP). Karena itu, mereka diwajibkan mengisolasi diri. Pedagang tidak boleh bepergian dari rumah. ’’Mereka masih bisa berjualan secara online,’’ tambah Hebi.

Kepala Paguyuban Pedagang Pasar Kapasan Afandi menuturkan, semua pedagang setuju pasar ditutup. Namun, mereka menolak jika penutupan dilakukan selama dua pekan. ’’Kami tidak setuju jika pasar ditutup selama itu. Bubar nanti semuanya,’’ kata Afandi.

Menurut Afandi, penutupan tidak hanya berdampak pada nasib pedagang. Namun juga para pegawai toko atau penjaga warung dan warga lainnya yang mencari nafkah di pasar. Mereka bakal sulit mencari nafkah. ’’Kami menunggu kabar hingga Senin. Semoga ada perubahan keputusan,’’ kata Afandi.

Harapan untuk menganulir keputusan penutupan disuarakan para pedagang yang mencari penghasilan di Pasar Kapasan. Yuliati, salah seorang pedagang, mengaku kaget atas keputusan pemkot tersebut. Dia berharap pemkot mengubah kebijakan yang dianggap kian mempersulit pedagang dan warga lain yang mencari penghidupan dari pasar di kawasan Surabaya Utara itu. ’’Sebentar lagi bulan puasa. Jadi, susah kalau ditutup,’’ kata Yuliati.

Perempuan itu mengungkapkan, dirinya sudah 30 tahun berjualan di Pasar Kapasan. Sehari-hari dia berdagang pakaian. Dalam sehari, Yuliati menyebut omzetnya mencapai Rp 5 juta.

Angka tersebut sebenarnya jauh menurun jika dibandingkan dengan sebelumnya. Sebab, pada hari biasa tanpa isu persebaran virus korona, omzet bisnis Yuliati mencapai Rp 40 juta sehari. ’’Adanya virus korona sebenarnya sudah berdampak pada pedagang. Kini kondisi kami semakin terjepit,’’ ungkapnya.

Dari data yang diperoleh Jawa Pos, saat ini ada 1.600 pedagang yang berjualan di Pasar Kapasan. Sebagian besar merupakan pedagang pakaian. Rata-rata memiliki tiga pegawai.

Sementara itu, omzet pedagang beragam. Dalam sebulan, omzet satu pedagang minimal Rp 150 juta. Artinya, pendapatan kotor di pasar bisa mencapai Rp 240 miliar sebulan.

Dewan Sidak, Minta Pedagang Tetap Buka

Anggota Komisi B DPRD Surabaya John Thamrun langsung mendatangi Pasar Kapasan kemarin. Dia meminta kebijakan penutupan pasar untuk pencegahan korona tidak dilakukan.

’’Jadi, hasil tes swab itu seharusnya dua kali. Nah, hasil tes kedua kan belum keluar,’’ ujar politikus PDIP tersebut. Dia menegaskan, yang berhak menentukan orang tersebut positif korona adalah dokter dan hasil laboratorium. Jika hasilnya belum tentu positif, dia meminta penutupan tidak dilakukan.

Dalam suratnya, PDPS menulis bahwa salah seorang yang sehari-hari bekerja di Pasar Kapasan sudah terkonfirmasi terkena coronavirus disease 2019 (Covid-2019). Karena itu, jual beli ditiadakan selama dua pekan.

Menurut dia, keputusan penutupan tersebut sangat prematur dan merugikan pedagang. Saat sidak, dia meminta para pedagang tetap berjualan dengan menjalankan protokol pencegahan Covid-19. ’’Tapi, setelah saya pergi, PDPS datang, lalu menertibkan pedagang agar mereka tutup,’’ ujarnya.

Thamrun menilai, penutupan tersebut berdampak besar bagi perekonomian pedagang. Apalagi, Pasar Kapasan adalah salah satu pasar dengan perputaran ekonomi terbesar di Surabaya.

Menurut Thamrun, penutupan tersebut terasa seperti lockdown bagi para pedagang dan pekerja di pasar. Hal tersebut bisa dilakukan apabila ada kompensasi dan fasilitas dari pemerintah. Baik berupa sembako maupun kebutuhan lainnya. ’’Tapi, jangan lah. Masih ada cara lain untuk mencegah Covid-19,’’ kata politikus dengan latar belakang advokat itu.

Dia menyarankan pedagang dan pembeli tetap boleh masuk pasar dengan menggunakan masker. Hand sanitizer dan tempat cuci tangan perlu disediakan.

Ketua Komisi C DPRD Surabaya Baktiono menilai, pemkot dan PD Pasar harus melihat kondisi seluruh pasar. Dia merasa fasilitas cuci tangan dan hand sanitizer belum terbagi merata. Hanya beberapa pasar yang sudah memilikinya. ’’Coba tiru swalayan. Antara pedagang dan pembeli ada pembatas mika plastik. Jadi, orang jual beli merasa aman,’’ ujarnya.

Selain itu, belum ada aturan khusus mengenai SOP bagi para pedagang yang tetap membuka usaha. Menurut Baktiono, ketentuan tersebut perlu dituangkan dalam surat edaran atau peraturan wali kota. ’’Kalau imbauan lisan, ya sulit,’’ jelasnya.

Perputaran Ekonomi di Pasar Kapasan

Jumlah pedagang di pasar 1.600 orang.
Pegawai mencapai lebih dari 4.800 orang.
Pasar dikunjungi lebih dari 2.000 orang setiap hari.
Omzet per bulan pasar mencapai Rp 240 miliar.
Sumber: Paguyuban Pedagang Pasar Kapasan. (jpc/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hamsah Umar

Comment

Loading...