Nikah Siri, Hukum, dan Kelangsungan Hidup Wanita

Minggu, 5 April 2020 21:42
Belum ada gambar

Oleh: Aisyah Nano (Ketua FLP Ranting Al Azhar)

Beredar sebuah berita di salah satu media online yang membahas tentang pernikahan Syekh Puji dengan seorang anak perempuan berusia 7 tahun.

Pujiono Cahyo Widiyanto alias Syekh Puji, kembali menjadi sorotan setelah disebut menikahi bocah berusia 7 tahun. Anggota keluarga Syekh Puji yang juga hadir dalam acara pernikahan itu menyebut, pernikahan Syekh Puji dilakukan tengah malam pada 2016 silam.

Walau pun pernikahan ini terjadi sudah cukup lama, yaitu pada tahun 2016, namun kabar ini baru saja beredar pada Jum’at, 3 April 2020.

Berita tersebut mengabarkan bahwasannya Syekh Puji yang menikahi seorang anak perempuan berusia 7 tahun tersebut, ternyata hanya melangsungkan perkawinan secara siri. Namun ketika ditanya, Syekh Puji membantah terkait adanya pernikahan yang ia lakukan tersebut. Masalah Inilah yang kemudian menarik penulis untuk mengangkat tema “Nikah Siri, Hukum, dan Kelangsungan Hidup Wanita”

Perkawinan Siri

Secara umum Perkawinan Siri (Nikah Siri) memiliki makna yaitu pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama (KUA) dan secara agama sudah sah. Artinya Nikah Siri adalah perikahan yang dilaksanakan dengan cara sembunyi-sembunyi kemudian tidak menyetujui perkawinannya ke KUA sehingga perkawinan mereka tidak mendapatkan legalitas formal di dalam hukum positif yang terkait dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.  Perkawinan ini juga sering disebut perkawinan dibawah tangan.

Bagikan berita ini:
9
3
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar