Alhamdulillah! Bayi 4 Bulan Berhasil Sembuh dari Covid-19

ANTISIPASI: Bayi yang baru lahir memakai pelindung wajah sebagai pencegahan virus SARS-CoV-2. Foto pada Jumat (3/4) itu dirilis Paolo Hospital Samutprakam, Thailand, kemarin (5/4). (Paolo Hospital Samutprakam via AP)

FAJAR.CO.ID, YOGYAKARTA– Bayi empat bulan positif Covid-19 yang dirawat di RSUD Wates Kulonprogo akhirnya sembuh. Itu tampak dari hasil tes swab kedua yang diadakan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBT KLPP) Jogjakarta.

”Sabtu (4/3) hasil tes dan data lab menyatakan negatif,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo Sri Budi Utami kepada Jawa Pos Radar Jogja (grup fajar.co.id) kemarin (5/3).

Meski demikian, bayi tersebut masih dirawat di RSUD Wates. Namun, perawatan tidak berlangsung lama. ”Satu atau dua hari ini boleh pulang jika secara umum kondisinya baik,” jelasnya.

Bayi laki-laki asal Kapanewon, Wates, itu dirawat di RSUD Wates sejak Selasa (17/3). Dia menunjukkan gejala demam dan sesak napas setelah berpergian dengan orang tuanya di salah satu kota di Jawa Tengah. Dengan alasan keamanan, mengingat riwayat perjalanan dan gejala sakit yang diderita, RSUD Wates lantas mengisolasi bayi tersebut. Bersamaan dengan hal itu, status bayi dimasukkan kriteria pasien dalam perawatan (PDP).

RSUD Wates kemudian mengirimkan spesimen bayi ke BBTKLPP Jogjakarta dan dilakukan tes swab pertama. Hasil tes yang keluar pada Rabu (25/3) menunjukkan bahwa bayi tersebut positif terjangkit virus korona. Selama perawatan, sampel spesimen bayi itu kembali diuji BBTKLPP Jogjakarta. Pada Sabtu (4/4), hasil tes swab kedua keluar. Hasilnya negatif korona. ”Ini kabar baik dari Kulonprogo untuk kasus Covid-19,” jelasnya.

Hingga kemarin, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyatakan ada 18 dokter yang meninggal karena positif coronavirus disease 2019 (Covid-19). Tenaga medis memang dianggap rentan tertular lantaran bertemu langsung dengan pasien. Karena itu, PB IDI menuntut bukan hanya tenaga medis yang merawat pasien yang diberi alat pelindung diri (APD) lengkap. Melainkan juga semua tenaga medis.

Melalui akun media sosialnya, PB IDI kemarin mengumumkan ada dua dokter yang meninggal. Menurut Humas PB IDI dr Abdul Halik Malik, dari 18 dokter yang meninggal, ada satu dokter yang juga merawat Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya sebelum dibawa ke RSPAD, Jakarta. Dokter tersebut adalah dr Ketty Herawati Sultana. ”Dokter Ketty relatif senior.”

Gugurnya tenaga medis, menurut Ketua Satgas Covid-19 PB IDI dr Zubairi Djoerban SpPD, merupakan risiko profesi. Bahkan bagi dokter yang tidak menangani pasien Covid-19. ”Sebagian bukan yang menangani langsung,” ucapnya. Bisa saja pasien datang untuk memeriksakan keluhan lain. Bisa juga keluarga pasien yang mengantarkan ternyata carrier atau pembawa virus. Pada second wave atau gelombang kedua diketahui, penderita Covid-19 tidak selalu bergejala. Bahkan, beberapa orang tertentu sehat meski di dalam tubuhnya terdapat SARS-CoV-2, virus Covid-19.

”Dulu orang sehat tidak perlu pakai masker, sekarang perlu. Dulu dokter hanya memakai masker, sekarang harus lebih,” jelasnya mengenai perkembangan Covid-19. Zubairi menambahkan, bukan hanya dokter yang menangani Covid-19 secara langsung yang memerlukan APD lengkap. Baju hazmat, kacamata google, sarung tangan, dan masker juga perlu dikenakan dokter yang bertemu dengan pasien pada umumnya. Sebab, tidak diketahui apakah pasien yang ditemui carrier Covid-19 atau bukan.

Selain itu, dibutuhkan waktu untuk mengetahui hasil tes Covid-19 dengan swab. Zubairi pernah menangani pasien dengan gejala Covid-19 dan hasilnya diterima setelah tujuh hari. Selama itu pula dia mencari rumah sakit rujukan. Sebab, rumah sakit tempatnya praktik tidak memiliki kapabilitas merawat pasien dalam pengawasan (PDP). Sayang, rumah sakit rujukan penuh.

Permasalahan rumah sakit dan hasil yang lama itu membuat dokter di luar rumah sakit rujukan harus bersiap-siap. ”Sekarang ini hampir seluruh rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya pernah merawat PDP,” ucapnya. Melihat hal itu, pemerintah harus mendistribusikan APD ke seluruh rumah sakit. Bahkan, tingkat puskesmas dan klinik pun perlu.

Sementara itu, sebelumnya Kepala Pusat Krisis Kementerian Kesehatan Budi Sylvana menyatakan, ada 5 juta APD yang disiapkan pemerintah. Jumlah itu cukup untuk persediaan selama tiga hingga empat bulan ke depan. (jpc/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hamsah Umar

Comment

Loading...