Cegah Penularan Covid-19, Mahasiswa Ini Isolasi Diri di Gubuk Empang

Dwi bersama adiknya melakukan isolasi mandiri di gubuk empang. (IST)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Merebaknya virus corona membuat Dwi Reskiyah Fajriyanti Sutandi, mahasiswa jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Muslim Indonesia (UMI) harus rela mengisolasi diri di gubuk milik keluarganya.

Dwi menjelaskan alasannya harus tinggal di gubuk selama dua minggu karena ia takut menjadi carier dan membawa virus corona dari Makassar.

“Kan saya pulkam ke Mamuju Tengah, Kecamatan Topoyo, Desa Tappilina. Sebelum pulkam bapakku nelpon,bilang sama saya jangan sampai rumah nah nak, kamu di empang saja dulu dikarantina mandiri,” ungkapnya kepada Fajar.co.id, Senin (6/4/2020).

Dirinya mengatakan ingin menjadi contoh bagi orang baru yang ingin masuk desa supaya melakukan karantina terlebih dahulu.

“Bapakku punya alasan kenapa saya dikarantina berdua dengan adikku di empang, karena bapakku kebetulan pak desa. Jadi bapakku takutkan nanti ada warga yang datang dari luar daerah baru tidak dikarantina, makanya kami berdua sebagai contoh karantina mandiri,” lanjut mahasiswa semester 8 tersebut.

Dwi sendiri jauh hari sudah mempersiapkan dirinya untuk karantina dengan membeli dua dos air minum beserta cemilan.”Mie, garam, bumbu dapur saya bawa dari Makassar,” ujarnya.

Sementara beras dan sayur dibawakan orang tuanya dari rumah kemudian dimasak di gubuk.

Meskipun tinggal di gubuk empang kata dia, kalau untuk tidur masih lumayan, karena di empang lengkap kasur dan kelambu,”Tetapi susahnya tidak ada listrik, penerangan hanya lilin, senter cas,” bebernya.

Kendati diisolasi, dirinya mengaku tiap hari dikunjungi orang tuanya. “Bapak setiap hari tapi kami jaga jarak, belum pernah ka salaman dengan bapakku,” kata dia.

Saat ini Dwi serta adiknya mengaku sehat dan tidak ada gejala sama sekali. “Kami sehat tidak bergejala, tapi kami harus karantina karena orang tuaku sudah paruh baya jadi untuk menghindari semua kemungkinan yang akan terjadi,” ucapnya.

Dirinya berharap keadaan bisa kembali normal.”Kami berdua dan orang-orang yang sekarang lagi jaga jarak dengan keluarganya dapat berkumpul lagi di rumah dan di meja makan, karena saya sekeluarga tempat favorit kami itu dimeja makan, makan bersama keluarga,” terang Dwi.

Sementara itu, Dekan FTI UMI, Zakir Sabara berpesan kepada Dwi untuk selalu jaga kesehatan. “Jaga kesehatan, semoga kisah ta ini semoga dapat mengisnpirasi banyak orang,”ucapnya. (ikbal/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Adi Mirsan

Comment

Loading...