Corona Hanya Satu, Tafsirannya yang Banyak

Oleh : Sopian Tamrin

(Dosen Sosiologi FIS UNM juga sebagai Wakil Bendahara KNPI Sulsel)

Coba kita menyelidiki kata apa yang paling sering diucapkan ataupun dituliskan saat ini maka dipastikan itu adalah “corona”. Jika anda bisa membaca perasaan Tuhan mungkin ia sedang cemburu pada kata itu. Seperti biasanya kelahiran satu makhluk akan mengukuhkan identitas gen atau spesiesnya. Namun sepertinya berbeda dengan makhluk yang bernama Covid-19 ini. Ia lahir sebagai virus namun ditafsirkan dengan istilah yang bermacam-macam.

Virus ini melanda pertama Kali di Kota Wuhan, cina selanjutnya menyebar ke iran. Fakta ini kemudian dibaca spontan sebagai mainan amerika. Meskipun awalnya banyak yang teriak bahwa ini tak lain adalah “tentara Allah”. Dalam perkembangannya ternyata menyebar ke italia bahkan amerika sendiri dengan jumlah penularan yang fantastis. Jumlah yang terjangkit pada negara yang katanya adi kuasa dengan segala hal itu, faktanya jauh lebih tinggi melebihi daerah asalnya. Padahal baru saja kita menghubung-hubungkan dengan beberapa kecurigaan untuk membangun argumentasi bahwa ini adalah konspirasi atau perang dagang antara Amerika dengan cina namun data itu menimbulkan ruang tafsiran baru lagi.

Percakapan hangat ini sepertinya belum menunjukkan tanda meredahnya. Tak pelak tafsir-menafsir menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Mungkin inilah satu topik paling bersejarah pada abad ini yang memancing semua ahli untuk mengomentarinya. Dari perspetif sains, politik, ekonomi bahkan agama. Secara sains, Yuval noah harari misalkan sala-satu yang paling banyak dikutip untuk mewakilkan pandangan ilmiah. Yuval tidak hanya menjelaskan tentang virus sebagai fakta biologis melainkan satu kemajuan atas mutasi virus. Bahkan tidak jarang analisis besar mengutip istilah beliau bahwa virus ini tak lain adalah senjata biologi dari kecanggihan biotek.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Adi Mirsan


Comment

Loading...