Corona Hanya Satu, Tafsirannya yang Banyak

Senin, 6 April 2020 16:01

Bukan hanya tafsiran sains melainkan fenomena ini justru menjadi satu variabel terpenting dalam analisis ekonomi semua negara saat ini. Berdasarkan analisis Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) bahwa efek corona secara ekonomi akan lebih buruk dibanding krisis finansial pada tahun 2008. Bisa dilihat bahwa fenomena ini berhasil memptontonkan kerentanan hampir semua negara dalam berbagai aspek, sala-satunya adalah ekonomi. Ia telah memporak-porandakan klaim kedigdayaan negara maju tak terkecuali amerika. Namun dalam tulisan ringkas ini saya tidak ingin melanjutkan analisis besar yang tidak terlalu dimengerti oleh banyak masyarakat bawah.

Satu hal terdekat, juga penting untuk diungkap sebagai realitas yang sedang mewabah layaknya virus. Apa itu? Wabah itu bernama ketakutan. Ketakutan menjadi satu persoalan penting yang harus diurai seluknya. Mengapa? karena hal ini berimplikasi terhadap perilaku dan perlakuan pada sesama begitupun cara berelasi dengan virusnya.

Takut virus atau tafsirannya?Perspektif sebagai kacamata ternyata betul – betul membuat makhluk bernama corona ini berwarna-warni dalam pandangan. Seperti yang saya tuliskan diatas bahwa corona itu hanya satu, yang banyak itu tafsirannya. Dari situasi semacam ini sulit rasanya untuk menyimpulkan bahwa apa benar kita takut karena virusnya atau sebenarnya ketakutan itu justru pada tafsirannya.

Kecenderungan ini menunjukkan bahwa corona saat ini tidak lagi sebagamana adanya dirinya sebagai virus (Das Ding An Sich) melainkan sebagai tafsiran atas dirinya. Bahkan tafsir atasnya bisa menciptakan efek perilaku lebih kuat dibanding virusnya sendiri. Kita bisa mengambil contoh dari implikasi ketakutan dalam bentuk praktik sekaligus mempertanyakannya. Misalnya, Mengapa banyak menimbun masker? Mengapa masyarakat menolak jenazah covid-19?. Jika meminjam istilah sosiolog erving goffman dengan konsep “stigmanya” bahwa covid-19 ini sudah terlanjur terstigma di tengah masyarakat. stigma itu terbangun dari obesitas informasi yang cenderung menebarkan ketakutan dibanding edukasi.

Bagikan berita ini:
5
3
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar