Menakar Kecemasan dan Ketakutan Covid 19

Petugas medis membawa jenazah yang meninggal karena corona. Foto : REUTERS/Andrew Kelly

Oleh: Nur Rasyid H (PM YOULEAD)

Covid-19 merupakan pandemi pertama, dilansir CNBC Indonesia menurut Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah  briefing di Jenewa, Swiss, Rabu (11/32020) Covid-19 adalah pandemi pertama yang disebabkan coronavirus. Dikutip Suara.com pandemi adalah penyakit yang menyerang orang dalam jumlah banyak dan terjadi di banyak tempat. Covid-19 telah menelan banyak korban, dilansir Kompas.com menurut juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona Achmad Yurianto menyatakan bahwa ada kasus pasien meninggal akibat Covid-19, hingga 5 April 2020, tercatat secara total ada 198 pasien meninggal setelah dinyatakan positif corona virus.  Dikutip liputan 6 Achmad Yurianto, juru bicara penanganan corona di Indonesia, mengungkapkan ada tambahan 181 orang positif. Dengan begitu total orang yang terjangkit  Covid-19 pada kamis, 5 April 2020 adalah 2.273 Jiwa. Jumlah orang yang terjangkit Covid-19 bertambah banyak sehingga masyarakat menjadi ketakutan dan menimbulkan kecemasan.

Membedakan dua emosi yaitu  kecemasan dan ketakutan, cara yang paling umum untuk membedakan antara pola respons ketakutan dan kecemasan adalah apakah ada sumber bahaya yang jelas dan yang akan dianggap nyata oleh kebanyakan orang, bila sumber bahaya sudah jelas emosi yang dialami disebut ketakutan, namun untuk kecemasan, kita sering tidak dapat menentukan dengan jelas bahaya apa itu. Kecemasan melibatkan perasaan khawatir tentang kemungkinan bahaya pada masa depan. Sedangkan ketakutan adalah reaksi alarm yang terjadi  sebagai respons terhadap bahaya langsung. Banyak peneliti terkemuka telah mengusulkan perbedaan yang lebih mendasar antara pola respons ketakutan dan kecemasan( misalnya, Barlow, 2002; Bouton, 2005; McNaughton, 2008). Menurut para ahli teori ini, ketakutan adalah emosi dasar yang melibatkan pengaktifan respons’’ serang atau hindar’’ dari system saraf otonom. Kecemasan adalah perpaduan kompleks antara emosi dan kognisi yang tidak menyenangkan yang lebih berorientasi pada masa depan dan jauh lebih menyebar daripada rasa takut (Barlow, 2002). (Dalam Buku Psikologi Abnormal, Hooley dkk, 2018)

Ketakutan berbagai negara yang disebabkan Covid-19 membuat berbagai negara mengambil kebijakan cepat, terutama pemerintah Indonesia telah membuat langkah dan upaya dalam menangani dan menghadapi Covid-19. Dari website kemlu.go.id pemerintah membuat kebijakan atas covid 19 salah satu nya kementrian kesehatan membuka kontak layanan yang dapat diakses masyarakat untuk mencari informasi perihal virus corona.  Dikutip Suara.com Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus ketua gugus tugas percepatan penangananvirus Corona Doni Monardo, ia meminta masyarakat untuk lebih disiplin dalam penerapan social distancing. Berbagai langkah dilakukan oleh pemerintah untuk melindungi warga negara nya sendiri agar tidak terkena viruscorona ini.

Kecemasan pun menyelimuti masyarakat sehingga menimbulkan asumsi-asumsi berbagai hal. Dilansir Suara.com lucy wanita 25 tahun asal Inggris yang mulai merasa kesakitan dengan  membicarakan corona Covid-19. Saat itu Lucy menyadari dirinya mengalami kecemasan akibat virus corona  Covid 19 ketika berbicara dengan seorang teman nya ‘’ saat itulah saya mulai merasakan gejala batuk dan sesak dada., Saya mulai merasa stress ketika ada banyak ketidakpastian dalam pekerjaan saya. Saya khawatir dengan apa yang akan terjadi pada negara kita’’ ujar lucy dikutip BBC. Dilansir theasianparent.com reaksi yang berkaitan erat dengan kecemasan berlebihan diantara rasa takut terkena infeksi yang berlebihan, rasa khawatir orang terdekat atau dicintai terinfeksi, rasa khawatir berlebihan saat gejala virus corona menyerupai kondisi yang sedang dialami, ketidaktahuan pengetahuan mengenai Covid-19 pun menimbulkan kekhawatiran, belum adanya vaksin atau pengobatan jelas mengenai Covid-19 juga dapat menumbuhkan rasa cemas dikalangan masyarakat.

Masyarakat jangan takut dan cemas terhadap virus Covid-19, daripada cemas yang tidak karuan lebih baik meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan melindungi tubuh dari hal-hal  seperti virus dan bakteri. Garis depan pertahanan dalam sistem kekebalan tubuh adalah sel darah putih. (Dalam Buku Psikologi Abnormal, Hooley dkk, 2018). Dilansir dari Pemkomedan.go.id cara mudah untuk meningkatkan sel darah putih adalah konsumsi protein yang cukup, konsumsi lemak baik, konsumsi karbohidrat kompleks, stop konsumsi alcohol, berhenti merokok, tidur yang cukup, olahraga teratur. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Adi Mirsan

Comment

Loading...