Kisah Zanetti: Datang ke Inter dengan Sepatu di Kantong Plastik, Kini Wakil Presiden

Javier Zanetti/Alex Grimm/Getty Images

FAJAR.CO.ID, MILAN—Legenda Inter Milan, Javier Zanetti berbagi kisah soal kariernya. Ia mengaku datang ke Inter pertama kali dengan sepatu di dalam kantong plastik. Namun kini, ia menjadi wakil presiden klub.

“Saya tiba pada tahun 1995 dengan sepatu bola di dalam kantong plastik, dan sekarang saya adalah Wakil Presiden Klub ini. Ini adalah perjalanan yang luar biasa, tetapi perjalanan yang menyertakan tanggung jawab besar,” katanya dalam surat ke penggemar Inter di seluruh dunia yang diposting di situs resmi klub.

Ia mengaku, pekerjaannya kini sangat berbeda. Meski begitu, ia terus belajar. “Saya telah belajar, menaruh segenap hati saya, menggunakan pengalaman dan pengetahuan saya dalam berurusan dengan segala sesuatu yang berada di meja saya,” jelasnya.

“Ini lebih rumit dibandingkan ketika saya harus mengejar bola, tetapi ini luar biasa: saya masih memiliki kesempatan untuk bekerja membangun masa depan Klub ini secara langsung,” sambungnya.

Ia mengaku dirinya sangat fokus membangun Inter. “Saya coba melakukannya dengan menatap bintang-bintang yang harus dijadikan panutan: para penggemar Nerazzurri, sejarah kami, seragam Nerazzurri,kesulitan dan kegembiraan yang telah kita lalui. Saya fokus pada masa depan, saya ingin itu menjadi sesuatu yang indah untuk kita, para penggemar Inter,” tegasnya.

Legenda Argentina itu juga berbicara soal fans. “Saya selalu mengagumi ketangguhan para penggemar Nerazzurri, kemampuan mereka untuk berada dekat dengan Anda sebagai pemain. Empati yang saya rasakan, sejak ketibaan saya, terjadi secara alami,” tuturnya.

Bagi Zanetti, fans Inter adalah mesin penggerak luar biasa bagi dirinya. “Penggemar Inter istimewa: mereka selalu ada, mendorong Anda, dengan perasaan yang kuat dan tidak biasa. Itu juga mengapa ketika tendon Achilles saya cedera di Palermo, ketika mereka membawa saya kembali ke ruang ganti, saya berpikir: ok, saya akan menjalani operasi dalam beberapa hari, kemudian saya akan memulai rehabilitasi dan dalam beberapa bulan, saya akan kembali ke lapangan. Saya berhutang pada diri saya dan orang-orang Nerazzurri, kita harus berpisah secara pantas,” jelasnya.

“Saya saat itu berumur 39 tahun. Banyak orang mengira karier saya telah tamat pada hari itu. Saya tidak pernah mengalami cedera seburuk itu, tetapi saya tidak takut, saya tidak membuat drama apa pun,” sambungnya.

Kuncinya kata Zanetti adalah terus bekerja keras. “Saya kembali bekerja, selangkah demi selangkah, sampai laga Inter vs Livorno, saya kembali ke lapangan kurang dari 200 hari setelah mendapat cedera. Riuh penonton yang menyambut saya pada hari itu membuat semua upaya saya terbayarkan. Begitu saya kembali ke ruang ganti saya berkata: ok, ini akan menjadi musim terakhir saya,” katanya.

Secara umum, ia mengaku waktu dan cinta telah menjadi poros dan sumbu yang merencanakan perjalanan hidupnya. “Saya menikahi Paula, yang saya kenal sejak dia masih bermain untuk tim basket daerah saya ketika kami masih kecil,” bebernya.

Selain istri, juga ada peran besar orangtuanya. “Saya mencintai sepak bola bahkan sebelum itu, dari ketika saya biasa mengejar bola di lapangan tanah liat di Argentina, meneriakkan komentar impian saya: Tim Nasional, Serie A. Saya dulu sering berfantasi, tetapi saya juga ingin membalas pengorbanan yang telah dilakukan orang tua demi saya. Saya berhasil memahami pelajaran itu dari keluarga saya di Fundacion Pupi bersama Paula: upaya untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi banyak anak,” ujarnya.

Sang legenda mempunyai tiga anak: Sol, Ignacio dan Tomas. Menurutnya, belakangan ini mereka terkadang menghabiskan sore bersama di sofa, menyaksikan kembali pertandingan dari tahun 2010.

“Kami menyaksikan kemenangan 2-0 kami di Derby beberapa hari yang lalu, dan saya berkata kepada Tomy, yang tidak pernah benar-benar melihat saya bermain: “Tonton apa yang sedang dilakukan Milito,” atau “lihat tendangan bebas dari Pandev ini.” Lalu kita semua berpelukan. Dia berusia delapan tahun, dia sedang mempelajari sejarah kita,” kisahnya. (amr)

loading...

Komentar

Loading...