Lebih Parah Dibanding Covid-19, DBD Tewaskan 254 Jiwa

Penyakit DBD bisa menular bukan hanya lewat nyamuk.

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Sedikitnya 254 jiwa meninggal meninggal dunia akibat penyakit demam berdarah dengue (DBD). Penyakit ini menjadi ancaman serius di tengah pandemi COVID-19.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor Kementerian Kesehatan Nadia Siti Tarmidzi mengatakan berdasarkan data yang dimiliki hingga Sabtu (4/4/2020) sedikitnya 254 jiwa meninggal dunia akibat DBD.

Wilayah Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi yang harus waspada DBD karena memiliki kasus tertinggi. (Data penyebaran lihat grafis)

“Masyarakat harus waspada terhadap penyakit DBD. Jangan sampai terlambat dalam penanganannya,” katanya dalam keterangannya, Senin (6/4/2020).

Dia meminta masyarakat tidak ragu datang ke fasilitas kesehatan seperti rumah sakit atau puskesmas jika mengalami gejala DBD agar segera mendapatkan penanganan medis.

“Perhatikan gejala DBD, bila ada gejala demam tinggi tiga hari tanpa sesak atau batuk, atau suara serak. Perhatikan adakah bintik-bintik merah atau gusi berdarah, atau mimisan sebagai tanda awal DBD,” katanya.

Meskipun saat ini tengah terjadi wabah COVID-19, Nadia mengatakan orang yang memiliki gejala DBD harus segera mengunjungi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan perawatan dengan segera. Nadia menjelaskan bahwa penyakit DBD juga merupakan penyakit infeksi seperti COVID-19 sehingga bisa dilakukan pencegahan dengan menjaga imunitas atau sistem kekebalan tubuh.

Dia juga meminta agar fasilitas kesehatan pun harus siap menerima pasien penyakit DBD meskipun saat ini banyak menangani pasien COVID-19.

Selain itu, Nadia meminta masyarakat agar melakukan pemberantasan sarang nyamuk di rumah. Terlebih saat ini keseharian warga berada di rumah melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Untuk kantor dan sekolah, karena gedung ini lama tidak ada aktivitas pastikan untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk di sekolah dan kantor oleh petugas kebersihan dengan menerapkan jaga jarak dan menggunakan masker,” jelas dia.

Dia juga menyarankan agar warga bisa memberantas jentik nyamuk dengan menaburkan obat disinfektan.

Sebelumnya Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan yang juga juru bicara penanganan COVID-19,

Achmad Yurianto mengatakan saat ini kerap terjadi peningkatan kasus DBD.

“Periode waktu sekarang ini yang memasuki musim pancaroba atau masa pergantian musim dari musim penghujan ke kemarau kerap terjadi peningkatan kasus DBD,” katanya.

Dia juga meminta kepadamasyarakat untuk mewaspadai ancaman penyakit DBD ini dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Dia mengkhawatirkan meningkatnya kasus DBD bisa menambah angka kesakitan dan kematian akibat COVID-19.

“Pada bulan ini kita masuk pancaroba, di mana gambaran klasiknya adalah munculnya penyakit demam berdarah. Oleh karena itu bersama keluarga di rumah mari lakukan pemberantasan sarang nyamuk, dengan munculnya demam berdarah akan memperburuk angka kesakitan dan kematian yang terjadi manakala bercampur dengan COVID-19,” katanya.

Khusus Covid-19, hingga pikul 14.42 WIB data pasien positif sudah mencapai 2.491 dengan angka kematian mencapai 2019 orang. (gw/fin/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Adi Mirsan

Comment

Loading...