Tiba Dini Hari, Ratusan Penumpang KM Lambelu Tak Diizinkan Turun Kapal

KM Lambelu saat mengangkut penumpang di Pelabuhan Malundung, Tarakan, pada Sabtu (28/3). Para penumpang menjalani pemeriksaan suhu tubuh. (KSOP Kelas III Tarakan/Antara)

FAJAR.CO.ID, MAUMERE– Pemerintah Kabupaten Sikka melarang 233 penumpang kapal Pelni KM Lambelu turun di Pelabuhan L Say Maumere setelah tiba di Maumere pada pukul 02.30 wita. Para penumpang kapal itu baru diizinkan turun dari kapal setelah petugas kesehatan naik ke atas kapal dan memeriksa kesehatan satu per satu penumpang kapal itu.

Kadis Kesehatan Maumere Petrus Herlemus seperti dilansir dari Antara pada Selasa (7/4) menjelaskan, pemeriksaan pertama dilakukan terhadap 95 anak buah kapal (ABK) yang sebelumnya berinteraksi dengan empat penumpang kapal atas Nunukan yang sudah dinyatakan positif Covid-19.

Baru kemudian para penumpang kapal diperiksa, sehingga totalnya mencapai 328 orang diperiksa di atas kapal oleh petugas kesehatan yang menggunakan alat pelindung diri lengkap.

”Pak Bupati meminta kapal boleh sandar di pelabuhan pada pagi hari, setelah tiba pada subuh tadi dan hanya diizinkan berlabuh di tengah laut,” kata Petrus.

Dia mengatakan, untuk mempercepat proses pemeriksaan terhadap para penumpang kapal dan ABK, ada 20 petugas kesehatan yang ditugaskan ke atas kapal. Masyarakat atau penumpang kapal juga diimbau untuk kooperatif membantu para petugas kesehatan, sehingga proses pemeriksaan kesehatan bisa berlangsung cepat.

Setelah diperiksa kesehatan, lanjut dia, para penumpang kapal tersebut belum diizinkan pulang ke rumah masing-masing, karena harus menjalani masa karantina di Kota Maumere selama 14 hari penuh. ”Mereka nanti dikarantina selama 14 hari di salah satu gedung di Maumere dan akan dipantau terus selama 14 hari itu,” tambah dia.

Ada beberapa sekolah negeri yang sudah disiapkan, tetapi karena ada penolakan dari warga sekitar sehingga terpaksa dipindahkan ke salah satu gedung di tengah kota.

Sebelumnya Pemda Sikka melalui usul bupati kepada pemerintah provinsi meminta agar kapal tersebut bersama ABK dan ratusan penumpang diisolasi di tengah laut selama enam hari namun tetap dipantau. Hal itu karena khawatir ada ABK atau penumpang yang terinfeksi virus korona, karena sudah berinteraksi dengan empat penumpang positif korona yang sudah turun di Nunukan, Kalimantan Utara.

”Namun hal itu ditolak pemprov, sehingga kapal tetap dizinkan bersandar dan penumpang kapal baru diizinkan turun setelah diperiksa kesehatannya. Kita harapkan semua sehat-sehat selalu,” tutur Petrus. (jpc/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hamsah Umar

Comment

Loading...