Kisah Supratman di Makassar, Tambah “Rudolf” Tiba di Rajawali

Rabu, 8 April 2020 14:20

Rumah di Jalan Mangga 21, tempat WR Soepratman wafat di kota Surabaya.

Wage Rudolf (WR) Supratman 10 tahun tinggal di Kees, Makassar. Teman-teman di Kota Daeng memanggilnya dengan nama Dolok atau Dolof.

Laporan: RIDWAN MARZUKI

FAJAR.CO.ID — USIA 11 tahun, Wage Supratman mulai merantau. Meninggalkan orang tuanya, Djoemeno Senen Sastrosoehardjo alias Abdoelmoein dan Siti Senen.

Tujuannya adalah Makassar. Kota berkembang yang menjadi pusat keramaian di Indonesia timur. Pada 1914, saat pertama kali menginjakkan kaki di Pelabuhan Makassar, ia begitu kagum. Pelabuhan itu sangat ramai.

Supratman menumpang Kapal Van der Wijk. Jika pernah membaca novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1939) karya Buya Hamka atau menonton filmnya, kapal itulah yang dimaksud. Pada 2013, novelnya diangkat ke layar lebar. Van der Wijk sendiri benar-benar tenggelam pada 20 Oktober 1936 dalam pelayaran Makassar-Surabaya-Tanjung Priuk.

Supratman tak sendiri. Kakak sulungnya, Roekijem Soepratijah bersama Sersan Willem Mauritius (WM) van Eldik (suami Roekijem) menjemput Supratman di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Lalu, berlayar bersama ke Makassar. Ada Fredinand van Eldik –putra Eldik-Roekijem– yang kerap dipanggil Dede. Pelayaran itu digambarkan sangat menghibur Supratman.

Dalam perjalanan menuju Makasar itu pulalah ia mulai tertarik pada biola. Hampir setiap sore kakak iparnya selalu bermain biola, sementara kakak sulungnya yang bersuara merdu itu menyanyi. Van Eldik kerap unjuk kebolehan bermain biola.

Komentar


VIDEO TERKINI