Misteri Klaim Jong-un Negaranya Nol Covid-19

Rabu, 8 April 2020 10:59

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, saat menyaksikan peluncuran rudal balistik. Terlihat ajudannya mengenakan masker. Kor...

FAJAR.CO.ID, PYONGYANG– Ketika hampir seluruh dunia dilanda krisis akibat wabah virus Korona jenis baru atau Covid-19, Korea Utara tetap bersikeras bahwa negaranya nol kasus. Sepertinya hampir mustahil. Pasalnya negara-negara di sekitarnya seperti Korea Selatan, Jepang, dan bahkan Tiongkok dilanda krisis Covid-19. Benarkah klaim Korea Utara tersebut?

Dilansir dari DW, Rabu (8/4), mencoba untuk mengakses informasi tentang krisis Coronavirus SARS-CoV-2 di Korea Utara, memang sulit. Fakta-fakta yang dapat dipercaya sangat minim, dan sebaliknya propaganda, dugaan, dan desas-desus yang beredar. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sebetulnya mulai bereaksi terhadap ancaman yang tak terlihat pada akhir Januari, jauh sebelum Eropa melakukannya.

Hanya saja, pada 13 Maret lalu, pemerintah Korea Utara mengatakan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa negara itu tidak memiliki satu pun kasus virus yang mengakibatkan penyakit Covid-19. Pada saat yang sama, negara tetangga Tiongkok melaporkan lebih dari 80 ribu orang terinfeksi, dan demikian pula Korea Selatan.

Anehnya, meski mengklaim tak ada kasus Covid-19, nadi kehidupan di Korea Utara sebagian besar terhenti. Ada larangan masuk dan keluar, lalu lintas udara dan kereta api ditangguhkan, sekolah dan universitas ditutup. Semua orang asing di negara itu ditempatkan di bawah karantina selama 30 hari. Bahkan, diplomat ikut dikarantina dan hanya diizinkan melakukan aktivitas yang sangat terbatas. Jerman kemudian menarik staf kedutaannya pada akhir Februari.

Di satu sisi, tentara Korut juga sempat “menghilang”. Komandan Angkatan Bersenjata AS yang berpangkalan di Korea Selatan, Jenderal Robert Abrams, melaporkan pada 13 Maret bahwa angkatan bersenjata Korea Utara telah dikurung selama sekitar 30 hari. Dan, mereka baru-baru ini memulai pelatihan rutin lagi.

“Kami tidak menerbangkan pesawat selama 24 hari. Angkatan Darat AS cukup yakin, bahwa ada kasus Covid-19 di Korea Utara juga,” kata Abrams.

Kediktatoran Korut didasarkan pada kontrol total. Ini disebut sebagai alasan sampai saat ini Korut mengklaim nol kasus Covid-19. Dalam artian, semua sektor dikontrol pemerintah sehingga tak ada publikasi. Bahkan, Korut sekarang mengirimkan sinyal yang jelas kepada dunia luar bahwa segalanya baik-baik saja.

Pandemi Dijawab Rudal

Korut bisa dibilang sangat cerdas dalam mengalihkan sorotan terkait klaim nol kasus Covid-19. Saat dunia heran dan disibukkan dengan penularan virus Korona yang makin masif, Korea Utara malah melakukan uji coba rudal balistik lebih banyak daripada sebelumnya.

Pada 22 Maret, sehari setelah tiga dari empat uji coba rudal Korea Utara, sebuah pesan dari kantor berita negara KCNA menjadi tajuk utama. KCNA melaporkan surat pribadi dari Presiden AS Donald Trump kepada pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, yang menurutnya Trump tidak hanya mendorong peningkatan hubungan bilateral, tetapi juga menyarankan kerja sama dalam perang melawan pandemi. Gedung Putih mengkonfirmasi surat itu tanpa merinci.

Hingga Selasa (7/4), ada hampir 1,4 juta infeksi yang dikonfirmasi di seluruh dunia, dan lebih dari 74 ribu pasien telah meninggal karena penyakit Covid-19. Tetapi tidak ada yang berubah dalam pernyataan resmi rezim Kim di Pyongyang. Nol kasus Covid-19 di Korea Utara masih dilaporkan.

Kebenaran atau Kebohongan?

Peneliti Inggris Andray Abrahamian mengatakan bahwa sangat tidak mungkin belum ada infeksi di Korea Utara. Andray mengajar di Pusat Kebijakan Keamanan di Universitas George Mason di Incheon, Korea Selatan dan telah melakukan perjalanan ke Korea Utara berulang kali selama 15 tahun terakhir.

“Situasi informasi di negara itu semakin memburuk karena Coronavirus. Perbatasan ditutup berarti ada lebih sedikit orang yang masuk dan keluar dari biasanya, jadi lebih sedikit berita yang tersedia daripada biasanya,” katanya kepada DW.

Wartawan AS Jean H. Lee, yang sering berada di Korea Utara antara 2008 dan 2017 juga setuju hal itu mustahil. Sayangnya, hanya sangat sedikit orang asing di lapangan saat ini untuk memberikan pandangan yang jelas tentang apa yang terjadi, dan beberapa yang ada di sana telah dikarantina.

“Coronavirus telah memungkinkan rezim untuk menegakkan pembatasan pergerakan bahkan lebih dari biasanya, sehingga akan sulit bagi orang asing untuk mendekati apa yang terjadi di rumah sakit,” lapor Lee.

Dia juga yakin bahwa ada kasus Coronavirus di negara itu. “Saya merasa sulit untuk percaya, mengingat lalu lintas perlintasan perbatasan Korut yang lama adalah bersama Tiongkok,” katanya.

Perbatasan itu membentang lebih dari 1.400 kilometer (870 mil), dan tanpa kekuatan pelindungnya Tiongkok, Korea Utara sulit bertahan. Negara itu menutup perlintasan perbatasannya dengan Tiongkok menjelang akhir Januari untuk para pelancong dan lalu lintas barang. Hanya satu pos pemeriksaan yang dibuka secara resmi untuk impor barang, berdasarkan peraturan karantina yang ketat. Tetapi pada saat itu virus telah menyebar di Tiongkok selama dua bulan. Dan sepertinya tidak mungkin itu akan berhenti di perbatasan Korea Utara.

Kematian Misterius

Pada 9 Maret 2020, surat kabar Daily NK melaporkan bahwa 180 tentara Korea Utara meninggal dunia dan disebut disebabkan oleh Coronavirus baru. Menurut sumbernya, rumah sakit militer telah menyemprotkan metanol ke daerah yang terkena dampak dengan disinfektan. Dua minggu kemudian, pada tanggal 25 Maret 2020, tajuk utama lain mencatat bahwa beberapa tahanan meninggal karena penyakit pernapasan.

“Secara umum, informan kami telah melaporkan bahwa pihak berwenang telah mengklasifikasikan banyak kematian dengan gejala Covid-19 sebagai pneumonia akut,” kata Daily NK mengatakan kepada DW.

Jika kecurigaan wabah Coronavirus di Korea Utara dikonfirmasi, sistem perawatan kesehatan di sana sangat lemah. Dengan 25 juta penduduknya, akan dihadapkan dengan tugas yang tidak dapat diselesaikan tanpa bantuan dari luar.

“Populasi keseluruhan sangat rentan terhadap penyakit menular karena kekurangan gizi kronis,” kata mantan koresponden Korea Utara, Lee.

Dia terakhir berada di Korut pada 2017, dan telah mengunjungi rumah sakit berkali-kali selama bertahun-tahun. “Rumah sakit Korea Utara tidak memiliki peralatan yang memadai untuk menghadapi penularan sebesar ini. Salah satu taktik utama secara global adalah mencuci tangan dengan sabun dan air hangat, tetapi baik sabun maupun air yang mengalir jarang tersedia di Korea Utara. Banyak rumah sakit dan klinik tidak memiliki sabun, air mengalir, dan pembersih yang memadai,” jelas Lee. (jpc/fajar)

Bagikan:

Komentar