Supaya Aman, Diam di Rumah

Mulyadi Hamid

Oleh: Muliyadi Hamid

Covid-19 sedang mewabah. Tercatat sudah lebih dari 160 negara yang terjangkit. Tak terkecuali negeri kita. Bahkan kota kita, Makassar. WHO telah menyebutnya sebagai pandemic.

Dampaknya bukan hanya pada kesehatan, kini sudah berdampak multi dimensi. Dunia pendidikan lumpuh. Untunglah sekarang proses belajar mengajar sudah bisa secara digital. Ujian ditiadakan. Ujian masuk perguruan tinggipun terpaksa diundur hingga bulan Juni.

Di beberapa tempat, bahkan rumah ibadah sudah ditutup. Salat berjemaah bagi umat muslim sudah dibatasi. Sebagian bahkan sudah dianjurkan salat di rumah. Termasuk salat Jumat.

Dunia politik juga terdampak. Tahapan pemilu kepala daerah mundur. Agenda partai politikp un semua berubah. Semua fokus pada upaya mengatasi menyebarnya wabah tersebut. Ketersediaan kebutuhan sehari-hari juga mulai langka. Alat-alat kesehatan dan pelindung diri sudah sangat langka. Vitamin dan obat-obatan habis di pasar. Termasuk kebutuhan pokok juga sudah mulai langka. Entah ini bisa bertahan berapa lama.

Perekonomian mulai terancam. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS anjlok. Bahkan sudah tembus pada level di atas 16.150/US $. Harga-harga bahan pokok, termasuk kebutuhan pencegahan wabah juga melambung naik. Aktivitas produksi terbatas. Termasuk distribusi. Kegiatan transportasi dibatasi. Investasi bakal mandek. Bisa dipastikan kondisi perekonomian akan anjlok.

Pemerintah merevisi kebijakan. Termasuk kebijakan relaksasi pajak dan tingkat suku bunga. Kebijakan ini tentu bukan untuk mendongkrak pertumbuhan, tapi sekadar stabilisasi.

Acara-acara yang mengumpulkan banyak orang sudah dilarang. Bahkan diancam pidana jika tetap ngotot melaksanakan hajatan besar. Polisi sudah mulai bertindak tegas. Membubarkan kerumunan massa di tempat umum. Tentu ini upaya untuk memutus penularan covid-19 itu. Sebab, memang hanya dengan cara mengisolasi diri di rumah, penularan virus ini bisa dihambat.

Menurut ahli kesehatan, Covid-19 ini memiliki keunikan. Karena bisa menjangkiti seseorang yang tampak sehat dan bugar. Ketika dalam tubuhnya sudah terjangkit, meski pun tidak ada gejala demam atau batuk, tetapi dia sudah menjadi penghantar (carrier).

Orang yang seperti ini bisa menularkan pada orang lain yang daya tahan tubuhnya lebih rendah. Sehingga sangat sulit mengetahui siapa-siapa yang sudah terjangkit hanya melihat penampilan fisik. Itulah sebabnya, mengapa dilarang berkumpul, meskipun kita tampak sehat-sehat saja. Kita bisa menularkan atau tertular dari orang-orang yang tampaknya sehat dan bugar juga.

Jika kita berkumpul atau ngobrol dengan orang yang mungkin saja sudah menjadi penghantar (carrier), maka kita pun akan menjadi carrier untuk keluarga kita sesudah kembali di rumah. Di sinilah bahayanya. Untuk itu, yang terbaik saat ini, taati petunjuk dan instruksi dari otoritas yang berwenang, terutama dari pemerintah dan otoritas keagamaan. Jangan bandel. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam

Comment

Loading...