Tumpukan Tanah Mudah Jebol, DPRD Luwu Minta Tanggul Permanen

Rumah hanyut akibat banjir di Luwu. (IST)

FAJAR.CO.ID, BELOPA– Pimpinan DPRD Luwu menilai desain pembangunan tanggul sepanjang Sungai Lamasi di Kecamatan Lamasi Timur, Kabupaten Luwu, tidak tepat. Tanggul yang dibangun pemerintah hanya menggunakan tumpukan tanah sehingga mudah jebol saat debit air sungai meningkat.

Ketua DPRD Luwu, Rusli Sunali mengatakan, tumpukan tanah yang menjadi tanggul sungai perlu ditunjau ulang. ”Setiap tahun mengalami jebol. Bukan hanya di aatu desa, tapi beberapa desa, ”kata Rusli kepada Fajar, Selasa (7/4/2020)l.

Tanggul dari tanah ini memang cukup tinggi. Tapi lebarnya hanya tiga meter. Posisi tanggul dekat dengan bibur sungai.

Legislator Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menyarankan kepada pemerintah agar tanggul yang digunakan di Sungai Lamasi, Kecamatan Lamasi Timur bukan tumpukan tanah. Tapi, tanggul ini menggunakan tiang pancang.

Tiang pancang ini berbahan beton. Supaya lebih kuat menahan derasnya debit air sungai Lamasi. Selama ini setiap tahun tanggung jebol. Makanya, perhatian pemerintah hanya membangun tanggul sementara.

Wakil Bupati Luwu, Syukur Bijak mengatakan tanggul ini dibangun pemerintah pusat. ”Pusat membangun tanggul sungai Lamasi melalui Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ) Makassar,” sebutnya.

Anggaran dikucurkan setiap tahun membangun tanggul sungai Lamasi di empat desa di Kecamatan Lamasi Timur, Kabupaten Luwu, mencapai Rp40 miliar. Namun, setiap tanggul di Desa Pompengan, Pompengan Utara, Pompengan Tengah, dan Pompengan Pantai mudah jebol.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Adi Mirsan


Comment

Loading...