Awan Gelap Corona Menggelayut di Makassar

Kamis, 9 April 2020 17:36

ILUSTRASI. (INT)

Di lift pun sudah diatur sedemikian rupa. Pengguna maksimal hanya 6 orang. Saat normalnya, bisa sampai 15 orang.

Langkah-langkah seperti ini, patut diterapkan di semua kantor. Jika memang kita semua sepakat mencegah dan melawan covid-19. Tak perlu takut dan stres berlebihan. Cukup bagaimana kita menjaga diri dengan berpegang pada anjuran WHO dan pakar-pakar kesehatan.

Di Makassar ini, sepertinya memang imbauan-imbauan harus dikurangi. Diganti menjadi “diwajibkan”. Sebab, kalau cuma imbauan, publik seolah tak menghiraukan. Contohnya, imbauan menggunakan masker saat meninggalkan rumah. Saat ini, pengguna kendaraan roda dua tak semua mematuhinya. Padahal, masker berguna menghalangi debu dan polusi. Bukan hanya karena ada wabah corona.

Jika kita semua sudah patuh, rasa-rasanya tak perlu lagi ada perdebatan; apakah perlu tidaknya lockdown, karantina wilayah, pembatasan sosial berskala kecil, atau pembatasan sosial berskala besar.

Soal itu, kita serahkan saja ke pemerintah. Apa pun keputusan pemerintah kita jalankan. Sebab, itu untuk kepentingan rakyat. Saya kira tidak ada pemimpin yang mau mencelakakan rakyatnya. Apalagi melihat rakyatnya mati sia-sia.

Kita memang prihatin. Sebab, Sulsel sudah 138 positif. Terbanyak di Kota Makassar dengan 81 orang positif, disusul Gowa 17, Maros 12, dan Sidrap 11. Angka itu hingga Kamis, 9 April 2020.

Komentar