Awan Gelap Corona Menggelayut di Makassar

  • Bagikan

Oleh: Arsyad Hakim

Banyak jalan menuju Roma. Pameo klasik itu berjalan saat ini. Sejak pandemi corona melanda hampir seantero dunia, termasuk di Kota Makassar, Sulsel.

Pelayanan publik tetap jalan. Antisipasi menyebarnya corona virus disease 2019 (covid-19) juga tetap maksimal. Rasanya tak elok kalau kita hanya menyalahkan apalagi menyerang pemerintah. Tetapi, secara individu kita tidak patuh atas instruksi pemerintah dan WHO.

Sosial Distancing, physical Distancing, memakai masker, dan rajin cuci tangan, serta memeriksakan diri ke dokter apabila kondisi tubuh tidak fit. Terlebih jika ciri-cirinya secara umum sama dengan ciri orang yang terserang virus corona.

Terkait pelayanan ini, saya salut dengan instansi dan perusahaan swasta yang menerapkan aturan ketat. Pelayanan tetap jalan, namun kewaspadaan juga tinggi. Di salah satu bank BUMN di kawasan BTP misalnya, pengetatan itu tampak sekali. Sekuriti begitu siaga di pintu kantor.

Nasabah yang mau masuk ke bank diarahkan cuci tangan dan pakai masker. Jika tidak, mereka tak diizinkan masuk. Begitu juga di ruang tunggu, jarak duduk nasabah sudah diatur sedemikian rupa. Ada jarak minimal satu meter per orang. Semua pegawai juga memakai masker.

Hal sama terjadi juga di Graha Pena Makassar. Di kantor media itu, pintu utama gedung ditutup, semua karyawan dan tamu lewat satu pintu di basement. Tentu setelah cuci tangan, pemeriksaan suhu tubuh, menggunakan masker, dan bilik disinfektan.

Di lift pun sudah diatur sedemikian rupa. Pengguna maksimal hanya 6 orang. Saat normalnya, bisa sampai 15 orang.

Langkah-langkah seperti ini, patut diterapkan di semua kantor. Jika memang kita semua sepakat mencegah dan melawan covid-19. Tak perlu takut dan stres berlebihan. Cukup bagaimana kita menjaga diri dengan berpegang pada anjuran WHO dan pakar-pakar kesehatan.

Di Makassar ini, sepertinya memang imbauan-imbauan harus dikurangi. Diganti menjadi "diwajibkan". Sebab, kalau cuma imbauan, publik seolah tak menghiraukan. Contohnya, imbauan menggunakan masker saat meninggalkan rumah. Saat ini, pengguna kendaraan roda dua tak semua mematuhinya. Padahal, masker berguna menghalangi debu dan polusi. Bukan hanya karena ada wabah corona.

Jika kita semua sudah patuh, rasa-rasanya tak perlu lagi ada perdebatan; apakah perlu tidaknya lockdown, karantina wilayah, pembatasan sosial berskala kecil, atau pembatasan sosial berskala besar.

Soal itu, kita serahkan saja ke pemerintah. Apa pun keputusan pemerintah kita jalankan. Sebab, itu untuk kepentingan rakyat. Saya kira tidak ada pemimpin yang mau mencelakakan rakyatnya. Apalagi melihat rakyatnya mati sia-sia.

Kita memang prihatin. Sebab, Sulsel sudah 138 positif. Terbanyak di Kota Makassar dengan 81 orang positif, disusul Gowa 17, Maros 12, dan Sidrap 11. Angka itu hingga Kamis, 9 April 2020.

Karenanya, saatnya kita bersatu. Bersatu cegah dan melawan corona. Kita harus yakin bahwa "awan gelap tidak selamanya menggelayut di satu titik saja". Yakinlah. (*)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan