Mahasiswa Indonesia Disarankan Pulang Jika Kondisi Makin Memburuk

Kamis, 9 April 2020 12:54

Mahasiswa INA di Australia/ilustrasi

“Misalnya saya sedang mengambil Master’s degree dua tahun, berarti saya … bertanggung jawab atas expense atau kebutuhan saya selama dua tahun itu.”

Walau mengatakan pernyataan dari Scott Morrison bisa diterima, David yang sempat menjadi pemegang Work and Holiday Visa (WHV), merasakan kesulitan bertahan hidup di Australia.

Setelah diberhentikan dari pekerjaan kontraknya sebagai pembersih dan penjaga bar kecil di Mindil Beach Casino Resort di Darwin, David harus bergantung pada tabungannya.

Kini sejumlah warga Indonesia di Australia, termasuk di Kawasan Australia Utara, melakukan berbagai upaya untuk membantu mahasiswa dan peserta program WHV.

Mereka menawarkan bantuan dalam bentuk makanan serta kebutuhan pokok sehari-hari, bahkan menawarkan tempat untuk tinggal sementara.

“Sejauh ini tabungan masih bisa mencukupi untuk bayar sewa, tapi memang terasa [sulitnya],” kata David kepada Natasya Salim dari ABC News.

“Makan sih oke, karena menurut saya makan bisa diirit. Terus kalau makanan untuk seminggu ini sih puji Tuhannya masih banyak yang memberikan lewat komunitas Indonesia dan teman yang bekerja di restoran yang beralih menjadi takeaway.”

Bantuan dari komunitas Indonesia juga turut mengurangi beban Anggraini Augusta, atau akrab disapa Angie, seorang mahasiswi di Australian Careers College, Darwin.

Ia kehilangan pekerjaan sampingannya di Casino, sejak Australia menutup tempat-tempat yang dianggap ‘non-essential’ atau tidak penting.

Komentar