Mahasiswa Indonesia Disarankan Pulang Jika Kondisi Makin Memburuk

Kamis, 9 April 2020 12:54

Mahasiswa INA di Australia/ilustrasi

“Sebenarnya untuk [masa sekolah] dua tahun saya bayar uang sekolah itu cukup untuk 12 bulan pertama,” kata Aldo.

Tapi ia harus mengubah rencananya jika tidak ada kepastian untuk tahun selanjutnya.

“Daripada kalau begini terus, untuk tahun keduanya saya tidak bisa bayar, mending saya berhenti kuliah dan pulang [ke Indonesia] saja.”

Hingga saat ini, beberapa universitas telah menyediakan bantuan dana bagi para mahasiswa.

Universitas tempat David dan Aldo kuliah, yakni Charles Darwin University, misalnya menganggarkan dana sebesar AU$200,000 (Rp2 milyar) bagi mahasiswa mereka yang mengalami kesulitan keuangan karena terdampak COVID-19.

David, yang sudah mencoba melamar pekerjaan di beberapa tempat namun belum mendapat panggilan kerja, berencana untuk mengakses bantuan dari universitas karena menilai dirinya termasuk yang memenuhi syarat.

Pemerintah Australia sebenarnya sudah mengeluarkan izin bagi para pemegang visa sementara, yang memiliki hak kerja dan terdampak COVID-19 untuk mengakses ‘superannuation’ lebih awal hingga AU$10,000, atau lebih dari Rp100 juta.

Bagi warga negara Australia, ‘superannuation’ adalah dana yang terkumpul dari penghasilan mereka selama bekerja yang bisa diambil setelah usia pensiun.

Sedangkan, bagi yang bukan warga negara, dana ‘superannuation’ dapat diambil ketika ‘for good’ atau meninggalkan Australia tanpa rencana untuk kembali.

Pejabat Sementara Menteri Imigrasi Australia, Alan Tudge mengatakan mahasiswa internasional yang telah tinggal lebih dari 12 bulan di Australia dapat mengakses ‘superannuation’ mereka lebih awal dari seharusnya.

Bagikan berita ini:
8
5
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar