Menara Gereja

Kamis, 9 April 2020 08:33

Oleh Dahlan Iskan

FAJAR.CO.ID– Saya terpaksa minta bantuan Nixen Veidy Temo, 37 tahun. Ia wartawan koran Posko Manado yang tugasnya di Tomohon.

Saya sudah tidak bisa minta bantuan ke siapa lagi.

Peristiwa itu terlalu menarik bagi saya. Tidak boleh dilewatkan. Untuk pertama kali ada kebaktian hari minggu dilaksanakan di rumah masing-masing dengan panduan dari toa di gereja.

Yang dimaksud ‘toa’ adalah pengeras suara. Begitulah orang di Manado berbahasa.

Sejak waspada virus corona tidak ada lagi kebaktian bersama di gereja.

Tapi mereka menemukan jalan itu: pendeta tetap memimpin kebaktian dari gereja lewat toa. Ada yang berdiri di teras. Sambil menghadap ke gereja di kejauhan. Ada juga yang di dalam rumah saja. Toh suara toa itu cukup keras.

Saya tidak berhasil menelusuri siapa pemilik ide itu. Saya sudah menghubungi empat pendeta. Lewat telepon dari Surabaya.

“Saya tahu itu. Tapi rumah saya jauh dari gereja,” ujar seorang pendeta. “Saya tidak tahu pelaksanaannya seperti apa,” tambahnya. Saya hubungi pendeta lain. “Oh, itu gereja GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa). Saya dari Pantekosta,” ujarnya.

Saya telepon pendeta lain lagi. “Saya bukan pendeta. Saya dokter,” ujar orang ketiga yang saya hubungi itu. Ia adalah dr Richard Sengkey. Menurut teman saya ia pendeta. Ternyata bukan.

Bagikan berita ini:
4
8
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar