PM Inggris Jalani Perawatan Intensif, SBY: Saya Pernah Dalam Situasi yang Sama

Kamis, 9 April 2020 01:45

Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), (Dery/JawaPos.com)

Pemimpin yang lahir di Pacitan, Jawa Timur pada 9 September 1949 itu pu menceritakan bagaimana dirinya pernah dihadapkan pada sejumlah krisis ketika sepuluh tahun menjadi presiden. Sebagai contoh, sewaktu bersama Wapres Jusuf Kalla mengatasi bencana alam terbesar awal abad 21, yaitu tsunami Aceh dan Nias.

Kemudian, ketika mengatasi krisis meroketnya harga minyak dunia di tahun 2005, 2008 dan 2013; dan sewaktu mengatasi krisis ekonomi global tahun 2008-2009 bersama Jusuf Kalla, Boediono, Sri Mulyani dan para pejabat negara baik pusat maupun daerah yang lain masa itu.

“Dalam masa krisis dan “darurat” tersebut, saya harus memimpin secara langsung. Bertanggung jawab secara penuh. I must be at the driving seat. Ibarat sedang menjalankan kendaraan, saya sendiri yang harus mengemudikannya, sementara rakyat Indonesia sebagai penumpangnya,” demikian SBY menerangkan.

Nah, dalam suasana krisis tersebut, lanjutnya, seorang pemimpin sering lupa atas keamanan dan keselamatan dirinya. Bisa lupa makan dan minum, kurang tidur dan bahkan tidak mengenal waktu untuk beristirahat. Itu karena, dalam hati dan pikirannya, tugaslah yang harus diutamakan.

“Mission must be well accomplished. Krisis harus bisa diatasi. Negaranya harus selamat. Rakyat harus dilindungi. Semuanya dipandang sebagai tugas dan kewajiban moral seorang pemimpin,” ungkap mantan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan era Presiden Megawati Soekarnputri itu.

Komentar