Lakkang, “Surga Kecil” Tersembunyi di Kota Makassar (1)

Penulis (tengah) bersama Gubernur Sulsel dan Ketua DPRD Makassar.

Di Sini Banyak Haji Udang Sitto

Oleh: Arsyad Hakim

Sudah lama tahu tentang  Lakkang. Sebuah kelurahan di Kecamatan Tallo, Kota Makassar. Namun, baru kali ini saya bisa menginjakkan kaki di perkampungan eksotik yang dikelilingi sungai itu.

Sebenarnya, Lakkang tidak jauh-jauh amat. Posisinya berada di belakang Kelurahan Pampang, tak jauh dari kantor Gubernur Sulsel. Hanya saja, karena tak ada akses lewat darat sehingga harus memutar kalau ingin ke kampung itu. Rutenya lewat belakang kampus Unhas Tamalanrea. Belok kiri, melewati Kera-kera menuju ke pinggir Sungai Tallo.

Di bibir sungai itu, ada dermaga kecil, khusus untuk katinting. Perahu tradisional itulah yang melayani warga yang hendak keluar dan menuju Lakkang. Waktu tempuh sekira 10 menit. Beroperasi pagi hingga petang.

Sabtu sore, 11 April 2020, di kampung itu, ada panen padi hibrida. Di sawah tadah hujan. Dihadiri Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah. Saya ikut di rombongan kecil itu, sekitar 10 orang. Termasuk Ketua DPRD Makassar Rudiyanto Lallo, Ketua Bappelitbangda Sulsel Prof Yusran, anggota DPRD Sulsel Adi Anshar, Pj Kadis Pertanian Sulsel, dan Pj Kadis Pendidikan Sulsel.

Saat acara panen itu, saya baru tahu kalau kampung “terisolasi” ini, salah satu penyangga pangan di Makassar. Kampung ini juga penghasil udang sitto dan bandeng.

“Di sini (Lakkang, red) banyak haji-haji karena udang sitto,” begitu canda Rudiyanto Lallo, disambut tawa Gubernur. Luas tambak udang dan Bandeng di Lakkang sekitar 120 hektare, sedangkan lahan tanaman pangan 60 hektare. Sisanya adalah perkampungan dan kebun. Total luas Kelurahan Lakkang sekitar 220 hektare.

Dengan sumber daya alam yang memadai, Lakkang mampu mencukupi kebutuhan pangan warganya yang jumlahnya lebih 1000 orang, terbagi dalam 300 KK. Bahkan, udang sitto yang menjadi produk unggulan di kampung ini, dipasarkan ke manca negara. Saat panen, produksi udang masuk di kawasan industri. Lalu diekspor.

Sementara, produksi ikan bandeng terserap di pasar lokal. Tak sulit memasarkan karena ikan bandeng Lakkang beda aromanya dengan di daerah lain. Tidak bau pupuk.

Itu diakui Nurdin Abdullah saat dijamu makan di rumah orang tua Ketua DPRD Makassar, Rudiyanto Lallo. “Susah Pak, dapat seperti ini,” kata Nurdin Abdullah  saat mencicipi udang sitto, bandeng, dan rajungan. Selepas panen padi.

Untuk rajungan, warga Lakkang tidak membudidayakan. Jenis kepiting laut itu, adalah hasil tangkapan nelayan di sungai Tallo menggunakan jaring. “Rajungan datang  dari Laut, nelayan sisa menebar jaring di  sungai di sore hari. Pagi, langsung diambil hasilnga,” tambah Rudiyanto Lallo.

Satu hal menarik lainnya, warga di Lakkang ternyata masih satu rumpun semua. Mereka kawin mawin karena penduduknya jarang keluar Lakkang. Kecuali yang melanjutkan pendidikan dan bisnis. Itu pula yang dialami Rudiyanto Lallo, putra terbaik Lakkang yang kini menjadi Ketua DPRD Makassar.

“Saya empat semester pulang pergi Lakkang-Unhas jalan kaki berkilo-kilo meter. Menyeberang pakai perahu setiap hari. Nanti jadi aktivis, sudah jarang  pulang ke Lakkang karena menginap di kampus,” ucap Rudiyanto Lallo, setengah bercanda. (bersambung)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam

Comment

Loading...