Suka Foto Celana Dalam Wanita, 16 Pria Dipenjara 2 Tahun

Ilustrasi aksi upskirting/Getty Images

FAJAR.CO.ID, LONDON—Enam belas laki-laki dihukum karena memotret celana dalam dan selangkangan wanita atau yang biasa disebut aksi upskirting. Para pelaku tersebut dihukum sejak upskirting resmi menjadi pelanggaran pidana di Inggris dan Wales, tahun lalu.

Para pegiat mengatakan undang-undang itu menawarkan jalan menuju keadilan bagi para korban. Namun, mereka mengatakan masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran tentang keseriusan tindakan ini.

Angka dari Layanan Kejaksaan Mahkota (CPS) menunjukkan 16 orang telah dihukum karena 48 pelanggaran sejak 12 April 2019. Data itu memaparkan bahwa sebagian besar pelanggaran (33) terjadi di supermarket dan toko.

Sembilan aksi upskirting lainnya terjadi di angkutan umum. Selain itu, ada juga lima di jalan, dan satu di sekolah. Undang-undang itu diperkenalkan setelah juru kampanye Gina Martin melobi pemerintah selama dua tahun saat dia tidak dapat menuntut seorang pria yang mengambil gambar roknya di sebuah festival musik.

Mereka yang dihukum di Inggris dan Wales akan ditahan selama dua tahun. Siobhan Blake, pemimpin nasional CPS untuk penuntutan pelanggaran seksual, mengatakan ini adalah kejahatan yang merendahkan martabat wanita.

“Sekarang sudah setahun sejak praktik merendahkan ini menjadi pelanggaran pidana khusus tetapi perempuan terus dilanggar saat mereka menjalani kehidupan sehari-hari. Ini tampaknya menjadi masalah khusus di toko-toko dan di angkutan umum, di mana para pria pemangsa menyembunyikan alat untuk mengambil gambar rok wanita,” ujarnya dikutip dari Metro.

Menurutnya, hal ini tidak bisa dibiarkan karena merupakan tindak pidana. “Ini adalah kejahatan serius dan saya sangat senang melihat polisi dan jaksa memanfaatkan undang-undang ini secara teratur, dengan hampir 50 hukuman dijatuhkan hingga saat ini,” tegasnya.

Seorang pelajar yang menjadi korban dimana foto-foto tidak senonoh dirinya yang diambil tanpa persetujuannya dua tahun lalu mengatakan undang-undang yang baru itu penting. Akan tetapi kata dia, masih banyak orang yang gagal memahami keseriusannya.

Korban asal Birmingham yang sekarang berusia 17 tahun itu mengatakan, banyak yang menganggap ini hanya lelucon. “Saya pikir orang-orang berpikir itu adalah lelucon. Beberapa orang tidak menghargai keseriusannya. Sekarang ada undang-undang, jika orang tahu mereka bisa masuk penjara selama dua tahun, itu mungkin mencegah mereka,” ujarnya.

Dengan hukuman yang sudah dijatuhkann, ia berharap undang-undang itu bisa memunculkan kesadaran. Menurutnya, orang-orang perlu diajari sejak usia muda bahwa ini salah. “Jika Anda melakukan ini, ini adalah hukuman yang akan Anda dapatkan,” tuturnya.

Masyarakat Nasional untuk Prevention of Cruelty to Children (NSPCC) menyebut hukuman sebagai langkah maju yang bagus dalam menawarkan rute menuju keadilan bagi para korban. Juga untuk memperluas pemahaman tentang apa itu pelecehan seksual.

Tetapi badan amal tersebut mengatakan masih ada kebutuhan akan pendidikan yang lebih besar di sekolah-sekolah. Itu untuk mempertegas tentang apa yang dianggap sebagai pelecehan dalam upaya membentuk perilaku.

Alana Ryan, pejabat senior kebijakan dan urusan kemasyarakatan, mengatakan bahwa mereka tahu ini jauh lebih kompleks daripada sekadar pelanggaran kontak. Itu bisa terjadi secara online, dan dengan banyak orang.

“Kita mulai menyadari seberapa besar dampak teknologi. Sangat penting bahwa kita memiliki kerangka kriminal hukum untuk pelaku kejahatan dewasa tetapi juga pemahaman bahwa kaum muda membutuhkan lebih banyak pendidikan untuk memahami apakah itu pelecehan atau tidak,” jelas Alana Ryan. (amr)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Amir

Comment

Loading...