Lakkang, “Surga Kecil” Tersembunyi di Kota Makassar (2-Selesai)

Minggu, 12 April 2020 10:18

Gubernur Nurdin Abdullah menyerahkan bantuan bagi penduduk di Lakkang.

Pemkot Jangan Sia-siakan

Oleh: Arsyad Hakim

Sepulang dari Lakkang, Sabtu petang, 11 April 2020. Saya bersama rombongan menyusuri Sungai Tallo menggunakan speed boat kecil. Speed boat bermuatan 10 orang. Speed  boat satu-satunya yang dikelola warga Lakkang, sumbangan Pemkot.

Itu setelah seorang putra Lakkang  menjadi Ketua DPRD Makassar. Namanya, Rudiyanto Lallo. Ia masih sangat muda. Usianya baru 36 tahun. Alumni Fakultas Hukum Unhas, mantan aktivis dan advokat.

Di atas speed boat, ada Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, anggota DPRD Sulsel asal Selayar Adi Ansar, dan Kepala Bappedalitbangda Sulsel, Prof Yusran.

Tamasya di Sungai Tallo sore itu, berjalan sekitar 25 menit. Rutenya, Dermaga Lakkang hingga ke ujung jembatan tol.

Sebenarnya masih mau lanjut, tetapi senja kala itu sudah memasuki petang. Langit mulai gelap. Dan, cadangan BBM mulai menipis. Kami bergegas pulang setelah puas menikmati panorama alam di sepanjang Sungai Tallo yang tak pernah kering itu. Sungai yang di tepinya  rimbun pepohonan bakau dan nipah.

Saat berada di Lakkang, perbincangan warga terbelah. Ada yang ingin akses Lakkang dibuka dengan hadirnya  jembatan. Namun, ada juga warga yang ingin Lakkang tetap seperti sekarang. Akses lewat penyeberangan katinting saja. Agar mata pencaharian warga yang mengoperasikan perahu penyeberangan sungai tidak terganggu.

Lakkang memang memesona. Seorang Nurdin Abdullah, mengakui itu. Ia baru pertama kali ke Lakkang juga. Namun, ide liar sang Gubernur mulai muncul.

Nurdin Abdullah setuju jika keasrian Lakkang dipertahankan. Namun, tetap ada sentuhan modernisasi. Agar wisatawan masuk. Agar warga kota bisa melepas penat di Lakkang.

Bagi Nurdin Abdullah, Lakkang yang eksotik cukup dibuatkan jalanan aspal melingkari perkampungan. Dermaga ditata dan ditambah. Kalau sudah seperti itu, ia yakin banyak pengusaha akan tertarik. “Bisa-bisa akan banyak restoran terapung,” katanya.

Panorama Lakkang itulah yang harus ditangkap pemerintah kota. “Pemkot Jangan sia-siakan Lakkang. Ini aset pariwisata,” kata Nurdin.

Sungai Tallo memang layak dikembangkan menjadi objek wisata sungai. Keindahannya tak kalah dengan Sungai Barito di Kalimantan Selatan. Di kota seribu sungai itu, sungai telah menjelma menjadi wisata andalan. Sehingga tak lengkap rasanya ke Kalsel kalau belum menikmati wisata sungai dengan pasar terapungnya.

Kini, harapan menjadikan Sungai Tallo sebagai objek wisata baru, ada di pundak pemerintah kota dan provinsi. Apalagi sungai yang melegenda itu belum mengalami pendangkalan. Kedalaman airnya 4 hingga 6 meter. Baik musim hujan maupun kemarau. Semoga. (*)

Bagikan:

Komentar