Achillies

Oleh: Aidir Amin Daud

If you stay in Larissa, you will find peace. You will find a wonderful woman, and you will have sons and daughters, who will have children. And they'll all love you and remember your name. But when your children are dead, and their children after them, your name will be forgotten… If you go to Troy, glory will be yours. They will write stories about your victories in thousands of years! And the world will remember your name. But if you go to Troy, you will never come back… for your glory walks hand-in-hand with your doom. And I shall never see you again (Petikan ucapan Thetis kepada anaknya Achillies yang diajak Raja Yunani ikut menyerang Troya — dalam film Troy).

Inilah ucapan seorang Ibu yang men-support anaknya untuk pergi ke medan perang. Achillies diajak para Raja Yunani untuk ikut menyerbu kerajaan Troya. Dalam mitologi Yunani — Perang Troya (sebuah kerajaan di Asia Kecil) adalah peristiwa yang dimulai ketika Pangeran Paris dari Troya menculik Helene — wanita yang digambarkan tercantik di dunia — istri Raja Sparta: Menelaos.

Perang ini merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam mitologi Yunani dan diceritakan di banyak karya sastra Yunani. Dua naskah naskah kuno mengenai perang ini paling terkenal adalah Iliad dan Odisseia karya Homeros — yang mungkin jadi rujukan skenario film Troy.

Dialog Achillies dan Ibunya menggambarkan bagaimana — sang Ibu amat memghargai ‘kepahlawanan’, perjuangan dan pengorbanan. Sang Ibu Thetis meyakini bahwa Achillies tak akan kembali lagi dan bertemu dengannya — tetapi ia meyakini anaknya akan menjadi bagian dari kisah kepahlawanan yang akan abadi. Thetis dalam mitologi Yunani adalah Dewi Laut yang menikah dengan Peleus. Salah satu anak mereka adalah Achillies. Dan kita pun tahu — Paris membunuh Achillies dengan anak panahnya yang menancap di tumit Sang Hero. Meskipun terbunuh, namun ia akhirnya masuk dalam catatan sejarah sebagai pahlawan Yunani yang menghancurkan Troya — dan membunuh Pangeran Hector — kakak Paris — yang amat tangguh.


Hari-hari ini kita membaca, mendengar begitu banyaknya kisah pengorbanan para dokter dan paramedis dalam menghadapi Corona Virus Disease (Covid-19). Mereka paham bahwa ada ‘musuh’ tanpa wujud yang mereka hadapi. Apalagi di awal-awal Covid-19 mewabah, fasilitas medis masih amat terbatas. Mereka bisa saja ‘mengajukan cuti’ untuk tidak berada di lapangan. Namun mereka tahu itu bukan tradisi yang baik bahkan ‘menyalahi’ sumpah dan janji mereka sebagai dokter dan paramedis.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Adi Mirsan


Comment

Loading...