Achillies


Kita tentu sama menyepakati bahwa mereka berada di lapangan langsung dan menangani pasien positif Covid-19 (yang jumlahnya sudah mencapai 4241 orang) — adalah para pejuang yang tidak hanya berisiko besar tetapi juga tidak punya impian seperti Achillies untuk masuk dalam catatan sejarah. Mereka kita yakini ikhlas — sesuai sumpah dan janji yang mereka ucapkan untuk mengutamakan kepentingan ‘kemanusiaan’. Maka tentu kita juga menyesalkan membaca pemberitaan yang menyebutkan begitu banyak paramedis yang ‘diisolir’ oleh lingkungannya karena dikuatirkan membawa virus. Mereka ditolak oleh penghuni kost lainnya. Mereka diminta mengisolasi diri oleh keluarga sendiri. Sebuah sikap dan harapan yang juga tak bisa disalahkan karena ‘musuh’ ini bisa hadir kapan saja dan dimana saja. Simpati dan doa bagi para dokter/paramedis yang ‘gugur’ dalam melaksanakan tugasnya. Kita juga mendoakan 373 orang yang sudah diumumkan meninggal karena Covid-19 di Indonesia.


Perang melawan Covid-19 di Indonesia dan juga dunia, bukanlah perang di Troya. Dimana para raja dan prajurit saling berhadapan. Perang dimana mereka yang lebih kuat dan tangkas akan keluar sebagai pemenang. Para raja dan prajurit juga beryarung untuk keharuman nama mereka dalam catatan sejarah berabad-abad kemudian. Covid-19 adalah musuh yang tidak kelihatan. Para dokter dan paramedis berjuang untuk ‘mengalahkan’ mereka — bukan untuk torehan keharuman catatan sejarah kelak. Jika hari ini mereka ada di lapangan — semuanya untuk sebuah kerja kemanusiaan. Melebihi apa yang menjadi motivasi seorang Achillies. Mereka adalah pahlawan kemanusiaan yang mungkin tidak tercatat oleh sejarah.****

Komentar

Loading...