Kisah WR Supratman di Makassar, Tolak Tugas ke Sengkang

Senin, 13 April 2020 13:45

Sembari menjadi guru, kemahirannya bermain biola makin terasah. Sejak 1923, ia bahkan telah mampu menjadi komponis.

Laporan: RIDWAN MARZUKI

FAJAR.CO.ID — Wage Rudolf Supratman sudah berani tampil untuk mengiringi kakak sulungnya, Roekijem Soepratijah, menyanyi dalam acara pesta yang diselenggarakan di tangsi.

Atas dorongan Roekijem (baca Rukiyem) dan kakak iparnya Sersan Willem Mauritius (WM) van Eldik (suami Roekijem), ia tampil membawakan lagu-lagu klasik dengan membaca not balok. Konser disaksikan oleh para pejabat tinggi dan para pengusaha Belanda yang terkemuka di Makasar kala itu.

Supratman memperoleh pujian atas kebolehannya bermain biola Solo. Pada 1923, ia mulai belajar membuat aransemen yang disusul dengan membuat notasi lagu-lagu daerah dalam not angka dan not balok.

“Sejak itulah mulai timbul hasratnya untuk pada suatu waktu kelak dapat menjadi pencipta lagu atau komponis,” urai Bambang Sularto dalam bukunya, Wage Rudolf Suprtaman.

Dalam tugasnya sehari-hari sebagai guru, Supratman juga memperlihatkan disiplin dan tingkah laku yang terpuji. Beberapa tahun saja sudah menunjukkan prestasi kerja. Karenanya, kepala sekolah mengusulkan kepada penilik sekolah agar Supratman dinaikkan tingkatnya dari jabatan guru bantu menjadi guru penuh.

Usul itu disetujui penilik sekolah. Hanya saja, untuk menduduki jabatannya yang baru sebagai guru penuh, Supratman harus bersedia mengajar di sekolah dasar yang terletak jauh di daerah pedalaman. Saat itu pilihan penilik adalah Sengkang (Wajo).

Bagikan berita ini:
8
7
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar