Sejarah Putih (COVID-19)

Senin, 13 April 2020 18:07

dr. Armanto Makmun, M.Kes Dosen Fakultas Kedokteran UMI Makassar

FAJAR.CO.ID– Hari ini, kita berada di sebuah masa. Masa di mana jika kita ceritakan ini kepada anak dan cucu kita, mungkin mereka tidak akan percaya. Masa di mana, jika dijadikan naskah film  atau disadur menjadi sebuah novel, mungkin akan menjadi kisah terbaik yang pernah ada.   Apa yang terjadi pada hari ini, berawal dari kota putih. Sebuah kota dimana penduduknya berkulit putih. Suatu hari, satu wabah menyebar dan menjangkiti para warga satu demi satu. Detik berganti menjadi jam, berganti menjadi hari, dan berganti menjadi pekan. Selama itu pula, wabah ini tak berhenti. Dia terus bergerak, menyusup ke dalam tubuh-tubuh yang lengah.   Wabah ini mendorong ribuan warga untuk berduyun-duyun mendatangi rumah-rumah putih. Sebuah rumah di mana di dalamnya banyak petugas berpakaian jas putih. Para warga mendatangi rumah putih ini untuk menyelamatkan diri dan meminta bantuan. Kami ingin disembuhkan.   Namun, banyak dari mereka yang datang, akhirnya harus pulang dengan berbalut kain atau plastik putih. Bukan hanya satu, dua atau tiga. Tetapi sangat, sangat banyak.   Saudaraku, kisah ini tidak berhenti sampai di sini. Semakin hari, wabah semakin menyebar, ia terbang melewati gunung dan lautan. Sang wabah seperti memiliki tangan tak terlihat yang dapat menjangkau siapa saja. Hingga akhirnya, ia berhembus sampai ke gedung putih, dan memutihkan tanah suci. Tanah suci yang setiap hari kita dapati selalu dipenuhi dengan para hamba-Nya, sekarang kosong. Menunjukkan lantainya yang putih bersih.   Para pemangku jabatan dari tingkat paling rendah hingga ke paling tinggi menyuarakan perintah yang sama “tetaplah di rumah (stay at home)” menjadikan semua kantor di dunia menjadi hening. Jalanan menjadi sunyi. Pasar ditinggalkan pembelinya.

Karya Ilahi

Komentar