Bulan Ini Ventilator Portabel Mulai Diproduksi, Tahap Pertama 200 Unit

Rabu, 15 April 2020 15:24

FAJAR.CO.ID — Ventilator portabel desain dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi akan diproduksi oleh PT Len Industri dan PT Poly Jaya Medikal.

Indonesia akan segera memproduksi 200 ventilator portabel yang dibutuhkan untuk penanganan pasien virus corona. Menteri Riset dan Teknologi/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro mengatakan, produksi ventilator portabel tersebut akan dimulai pada 25 April 2020. Bambang menjelaskan, ventilator portabel tersebut merupakan hasil desain dari tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Produksi akan dilakukan oleh PT Len Industri dan PT Poly Jaya Medikal.

“Masing-masing mempunyai kapasitas produksi 100 unit portable ventilator per minggu, masing-masing pabrik,” kata Bambang usai rapat terbatas melalui konferensi video, Rabu (15/3/2020).

Saat ini, menurut Bambang, prototipe ventilator portabel tersebut tengah diuji oleh Kementerian Kesehatan. Selain kedua perusahaan tersebut, dua perusahaan lainnya juga sudah siap memproduksi ventilator portabel tersebut, salah satunya PT Indofarma (Persero) Tbk.

“Sehingga nanti kami harapkan bisa 400 unit per minggu apabila tentunya disesuaikan dengan kebutuhan,” kata Bambang.

Tak hanya yang didesain BPPT, Bambang menyebut ada 15 usulan ventilator lainnya dari berbagai perguruan tinggi, lembaga penelitian, elemen masyarakat, dan swasta.

Kemenristek akan memfasilitasi mereka untuk melakukan pengujian usulan berbagai ventilator tersebut di Kementerian Kesehatan. Kemenristek juga akan meminta dukungan dari Kementerian Perindustrian dan Kementerian BUMN untuk mencarikan mitra yang mampu memproduksi 15 usulan ventilator tersebut.

“Karena tidak gampang mencari mitra industri. Mereka belum terbiasa dengan produksi ventilator tersebut,” kata dia. Selain ventilator, Indonesia akan memproduksi alat pengetesan virus corona. Sebanyak 100 ribu alat rapid test akan diproduksi di dalam negeri pada akhir Mei 2020. Alat rapid test tersebut merupakan buatan BPPT bekerja sama dengan Universitas Gajah Mada dan diproduksi oleh PT Hepatika Mataram.

“Rencananya tentu akan diproduksi dalam jumlah yang lebih besar lagi untuk kebutuhan rapid test dalam rangka penanganan Covid-19,” kata dia.

Indonesia juga akan memproduksi alat pengetesan dengan metode polymerase chain reaction. Alat PCR ini dibuat oleh BPPT bekerja sama dengan Nusantics dan PT Biofarma. Namun, alat ini masih perlu diuji terlebih dahulu di BPOM dan Kementerian Kesehatan.

“Tidak lama lagi kita akan punya PCR test kit yang basis pengetesannya adalah virus yang merupakan local transmission,” kata dia. (jpg)

Komentar